Senin, 26 April 2010

DUNIA STEKER...bahasa jawanya "cop-copan"

Steker temuan Harvey Hubbell disambut dingin masyarakat ketika pemerintah AS menganugerahinya paten pada November 1904. Hubbell si penemu, lebih tertarik pada kepraktisan daripada ketenaran. Padahal dengan steker dan soket, orang tidak perlu lagi menghubungkan semua peralatan ke pasokan listrik utama, yang merupakan tindakan berbahaya.

Dalam permohonan patennya disebutkan, alat baru itu akan memungkinkan "orang yang tak paham kelistrikan" dapat menhubungkan peralatan elektris. Namun masih banyak pelancong yang kesulitan dalam menggunakan pengering rambut atau alat listrik lain di luar negara mereka, dikarenakan perbedaan bentuk soket listrik.

Pada awal 1900-an, pemerintah AS mengembangkan standar steker. Namun sampai saat ini tetap banyak negara yang tak memiliki standar serupa dan menggunakan beragam steker, yang membuat diperlukannya satu jenis soket yang dapat mengakomodasi beberapa jenis steker. Kini ada 13 sistem steker dan soket diseluruh dunia ( gambar atas ). Bahkan hingga sekarang, 25 negara Uni Eropa masih belum sepakat soal keseragaman steker. Badan standar kelistrikan Eropa menghentikan kampanye "steker tunggal" pada 1996. Jangan heran kalau kini sebagian besar negara di Eropa menggunakan satu jenis soket untuk beragam steker. Tetapi harapan besar itu tetap ada, yaitu seluruh dunia akan menggunakan satu jenis steker suatu saat nanti.


sebaran bentuk steker di dunia

Sumber : National Geographic Indonesia

BENGAWAN SOLO....di mana air mengalir sampai jauh

Bengawan Solo
Riwayatmu ini
Sedari dulu jadi...
Perhatian insani

Musim kemarau
Tak seberapa airmu
Dimusim hujan air..
Meluap sampai jauh

Mata airmu dari Solo
Terkurung gunung seribu
Air meluap sampai jauh
Dan akhirnya ke laut

Itu perahu
Riwayatnya dulu
Kaum pedagang selalu...
Naik itu perahu


Siapa yang tak kenal dengan cuplikan lagu di atas ? Bahkan lagu ini sudah sangat terkenal di manca negara. Ya..itulah lagu berjudul ''Bengawan Solo'' karya sang maestro Gesang. Beliau terinspirasi oleh keberadaan sungai Bengawan Solo yang berada tepat di sebelah timur kota Solo. Kota yang menjadi tempat kelahiran dan tempat tinggal beliau. Sungai yang memiliki panjang 540 km ini adalah sungai terpanjang di pulau Jawa.

Sungai terpanjang dan menjadi ikon kota Solo

Mungkin sebelumnya sungai ini lebih panjang dari yang sekarang karena lebih banyak berkelok-kelok. Di akhir tahun 80-an dan awal 90-an sungai Bengawan Solo banyak yang di luruskan guna memperlancar aliran airnya dan untuk menghindari banjir.

Sungai Bengawan Solo melewati 2 propinsi dan 12 kabupaten

Bengawan Solo melewati 12 kabupaten atau kota di 2 propinsi, yaitu Jawa Tengah dan Jawa Timur. Bengawan Solo bagaikan pembuluh darah bagi kehidupan manusia Jawa yang berdenyut di sekitar alirannya. Ia adalah tumpuan harapan bagi mereka, tempat mereka berdoa dan melepas lelah, menghidupi kerajaan di pedalaman, menyokong kehidupan purba, hingga meniupkan peradaban masa kini.

Aliran sungai Bengawan Solo yang bermuara di Gresik Jawa Timur, merupakan aliran yang baru. Maksudnya, pada masa purba aliran sungai Bengawan Solo bukanlah ke arah pantai utara Jawa, melainkan mengarah ke pantai selatan Jawa. Fenomena geologi telah mengubah corong akhir aliran sungai yang bersumber dari pertemuan Kali Muning dan Kali Tenggar di wilayah Wonogiri. "Bendungan" purba membalikkan muara ke arah utara. Jutaan tahun lalu, Samudra Hindia di selatan menjadi akhir bengawan yang memiliki asal kata dari desa Sala. Cerita masa lalu masih tersisa, walaupun nyaris tak disadari oleh generasi penerus.

Bekas aliran sungai Bengawan Solo purba dapat terlihat melalui foto satelit

Bentang alam di salah satu pantai tepian Samudra Hindia di selatan Jogja dapat menuturkan kisah ini. Dua buah dinding batu kapur tegak yang membentengi sisi kanan kiri pantai telah membuat tempat yang dinamakan Pantai Sadeng. Pantai ini berbeda dengan pantai-pantai di pesisir pulau Jawa lainnya. Jarak antar dinding lebih dari 100 m dan ketinggian kedua dinding mencapai 30 m. Sejumlah citra satelit menunjukkan alur Bengawan Solo Purba yang makin meyakinkan bahwa sungai purba itu pernah ada.

Daerah rendah dengan dua bukit di sisi kanan - kiri ini
adalah bekas aliran sungai Bengawan Solo purba

Bukti lain yang juga ikut memperkuat adanya bekas alur Bengawan Solo Purba adalah adanya dataran rendah dengan dinding yang tinggi di kedua sisinya yang memanjang menyerupai parit. Parit-parit raksasa ini bisa dijumpai di sekitar kabupaten Wonogiri dan Gunung Kidul. Jejaknya dapat diikuti mulai dari sebelah timur Gunung Payung di sebelah barat daya Giriworo, memanjang ke selatan sejauh kurang lebih 30 km dan berakhir di teluk Sadeng. Kini teluk tersebut telah menjadi tempat pendaratan ikan.


Sumber : National Geographic Indonesia dan Kompas
Foto : wikimapia.org

JALAN RAYA POS

Jalan Raya Pos ini terbentang dari Anyer ( Banten ) sampai ke Panarukan ( Jawa Timur ) sejauh kurang lebih 1000 km, tepatnya 1159 km. Dibangun oleh seorang Belanda yang menjabat sebagai Gubernur Hindia Belanda ke-36 bernama Herman Willem Daendels. Ia mendarat di Indonesia tepatnya di Anyer Lor pada tanggal 5 Januari 1808.

Jalan yang diberi warna merah tebal merupakan jalan raya pos
dari Anyer sampai Panarukan

Tujuan Daendels membangun Jalan Raya Pos tak lain ialah untuk mempertahankan Jawa dari serbuan Inggris. Daendels tahu bahwa tanpa adanya akses jalan yang memadai, pasukannya tidak dapat bergerak cepat dan pulau Jawa sebesar itu tak bisa dipertahankan. Seluruh jalan yang dibangun bukan merupakan jalan yang baru, namun cukup melebarkan jalan yang telah ada dan membuka beberapa ruas jalan yang benar-benar baru. Dalam mewujudkan keinginannya, Daendels mengerahkan ribuan kaum pribumi dengan dibantu oleh para Bupati yang daerahnya akan dilalui Jalan Raya pos. Dalam buku Memoir of the Conquest of Java, menyebutkan setidaknya 12 ribu orang tewas.

Anyer 0 km tepat di pinggir pantai
ditandai dengan tugu kecil bertuliskan " Anyer 0 km"


Ruas Anyer - Batavia merupakan ruas pertama yang dilebarkan. jalan ini sekarang tergolong kelas I yang menghubungkan pesisir barat Banten dengan Jakarta. Dari Anyer, jalan masuk ke Cilegon Utara. Dari Cilegon, jalan itu membelok ke timur laut menuju alun-alun Istana Surosowan di Banten Lama. Daerah rawa-rawa menghalangi Jalan Pos ke timur, sehingga Belanda membelokkannya ke kota Serang di selatan, yang sekarang menjadi ibukota propinsi Banten. Dengan medan yang datar, jalan itu mencapai kota Tangerang. Daendels lalu masuk Jakarta melalui Grogol, dari jalan Daan Mogot ke arah Pangeran Tubagus Angke, sampai Harmoni ( sekarang jalan Gajah Mada dan Hayam Wuruk ).

Harmoni yang dulu sangatlah berbeda dengan sekarang

Di Jakarta, Daendels merobohkan benteng Jan Pieterszoon Coen di Kota Intan, Jakarta Utara dan memindahkan semua markas militer ke Weltevreden ( sekarang Gambir ). Ia juga memilih Waterlooplein ( yang sekarang menjadi RSPAD Gatot Subroto ) sebagai kantornya.

Dari Jakarta, jalan pos diteruskan ke selatan menuju Bogor. Setelah melewati Depok dan Cibinong ( sekarang jalan raya Bogor ), jalan raya pos memasuki kota Bogor yang sekarang menjadi Jalan Raya Pajajaran dari kawasan Warung Jambu, Kampus IPB Baranangsiang sampai ke Tajur. Sampai di Bogor, Daendels menempati Istana Gubernur pendahulunya - sekarang Istana Bogor - dan memperluasnya.

Istana Bogor yang pernah dipakai oleh Daendels

Masalah mulai timbul ketika menanjak di Megamendung untuk mencapai Cianjur. Mereka harus memotong punggungan utara gunung Pangrango menembus perkebunan teh yang terkenal curam. Medan yang berbukit-bukit dan curah hujan yang tinggi menyebabkan banyak pekerja yang kelaparan, sakit dan akhirnya tewas. Menurut Nicolaus Engelhard ( salah satu mantan Gubernur Jawa ) menulis, 500 orang tewas di ruas Megamendung saja.

Jalur Puncak, medannya yang berbukit-bukit
dan dulu masih berupa hutan yang lebat

Dari Cianjur jalan mendaki lagi di Padalarang lalu turun ke Bandung. Namun karena jalan yang di bangun tidak melewati ibukota Bandung di Krapyak, maka Daendels memerintahkan penguasa Bandung saat itu untuk memindahkan ibukotanya ke utara sejauh 10 km, tepat di Jalan Raya Pos. Titik nol kilometer itu sekarang tepat di depan Gedung Bina Marga dan menjadi ruas Jalan Asia-Afrika.

Bandung 0 km tepat berada di depan kantor Bina Marga

Dari situ Jalan Raya Pos menuju timur ke jalan Jendral Sudirman, Jendral Ahmad Yani, melewati Gedung Sate terus ke arah Cileunyi, Jatinangor, membelok ke utara menuju Sumedang.

Di Ciherang menjelang kota Sumedang, Daendels mendapat perlawanan dari Bupati Sumedang Pangeran Kusumadinata IX dikarenakan banyak penduduk yang tewas saat memapas cadas Ciherang. Memang tidak terjadi pertempuran di tempat itu. Namun saat bertemu dengan Daendels, Pangeran Kusumadinata berjabat tangan dengan menggunakan tangan kiri.

Di Padas Pangeran terdapat patung Pangeran Kusumadinata IX
yang berjabat tangan dengan Daendels dengan tangan kiri


Dari kejadian tersebut, Daendels tahu bahwa sang pangeran sedang marah. Kini Ciherang disebut Cadas Pangeran dan menjadi lintas utama Bandung - Cirebon.
Pada mulanya, Jalan Raya Pos tidak akan melewati kota Cirebon. Jalan Raya Pos berakhir di Karangsembung ( sekitar 10 km selatan kota Cirebon ) dan akan langsung diteruskan ke Jawa Tengah. Namun Bupati Cirebon meminta Daendels untuk menyambung jalan tersebut sampai ke kotanya. Dari Cirebon, Jalan Raya Pos langsung masuk jalur Pantura melewati kota Brebes, Tegal, Pemalang, Pekalongan, Batang dan Kendal. Sebelum sampai di Kendal Jalan Raya Pos akan melewati rimbunnya hutan jati yang diberi nama Alas Roban.

Jalur Pantura yang membelah hutan jati Alas Roban
merupakan jalur transportasi darat tersibuk di Indonesia


Pantura telah lama menjadi tulang punggung perekonomian di pulau Jawa, di mana hilir mudik kendaraan pengangkut jutaan penumpang dan berbagai jenis barang antar kota. Di Indonesia, hampir selama 200 tahun tidak ada jalan yang sesibuk jalur Pantura. Dari Cirebon hingga Semarang dan terus ke timur sampai Tuban, Jalan raya Pos melewati kota-kota yang sarat dengan sejarah. Di Semarang, Jalan Raya Pos membelah pusat kota di Lawang Sewu yang dulu menjadi kantor jawatan kereta api Belanda, terus melaju ke jalan Pemuda. Orang mengenalnya sebagai kota tua Semarang, yang dipisahkan dari kota baru oleh Sungai Semarang.

Tugu Muda dan gedung Lawang Sewu
dua ikon kota Semarang

Setelah melewati kota Semarang, jalan ini terus menuju ke arah timur melewati kota Kudus, Demak, pati dan Rembang, membagi alun-alun kota ditengahnya. Memasuki Jawa Timur, Jalan Raya Pos melewati kota Tuban, gresik dan langsung masuk ke kota Surabaya melalui jembatan merah, lurus ke jalan Veteran dan terus ke Selatan.

Jembatan Merah

Selepas Surabaya, Jalan Raya pos masuk ke Wonokromo, Sidoarjo dan Porong, tiga kota satelit yang sulit dibedakan lagi dengan Surabaya karena laju industrinya sangat pesat. Namun saat ini ketiga kota kecil itu resah, karena luapan lumpur Lapindo sejak 3,5 tahun yang lalu dan sampai saat ini bukannya berhenti justru semakin meluas.

Jalan Raya Porong kini hampir selalu tergenang oleh luapan lumpur Lapindo

Di Gempol tepatnya di ujung jalan tol, setelah membelok ke timur, Jalan raya Pos sampai di Pasuruan. Rel-rel kereta pengangkut tebu yang merupakan saksi kolonialisme masih bisa dilihat, terbengkalai siring surutnya jaman gula. rel-rel tersebut muncul dan hilang diantara rumah-rumah penduduk yang dulunya ladang tebu. Ruas jalan terus ke timur menuju Bangil, sebuah kota kecamatan kecil yang sarat denga pesantren. Sekarang kota ini sangatlah rame, banyak yang menyangka kota ini adalah kota Pasuruan. Dikarenakan jalanannya yang rindang oleh berbagai pepohonan dan banyak kantor-kantor pemerintah yang memiliki kantor cabang pembantu di kota ini. Selain itu banyaknya pertokoan dan pusat perbelanjaan juga turut meramaikan kota ini.

Keluar dari Pasuruan ke arah Probolinggo, 10 km ke arah timur terdapat Pembangkit Listrik Tenaga Uap ( PLTU ) Paiton dengan empat cerobong asap yang besar dan tinggi seolah mencuat dari laut Jawa di bawah tebing yang kering dan tandus.
Di sebelah timur PLTU Paiton ini pulalah pada tahun 2003 yang lalu terjadi kecelakaan maut yang melibatkan sebuah truk kontainer dengan sebuah bus pariwisata dari Jogja yang menewaskan 55 orang penumpang bus. Memang jalan raya di sekitar PLTU Paiton medannya berbelok-belok dan naik turun cukup rawan untuk terjadi kecelakaan, terutama di malam hari.

Jalan Raya Pos berada tepat di depan PLTU Paiton

Selepas dari Paiton, di kanan dan kiri jalan raya mulai menghijau kembali ketika memasuki Kraksaan, Besuki. Daerah ini memang subur meskipun pada musim kemarau, sehingga banyak penduduk sekitar yang bermatapencaharian sebagai petani tembakau. Selain itu di sepanjang jalan raya Kraksaan banyak terdapat lokasi pembibitan udang.
14 km arah tenggara dari Besuki, Jalan Raya Pos memasuki kawasan wisat Pasir Putih. Jalan raya di sini berbatasan langsung dengan laut. Pasir pantainya yang putih menyebabkab daerah ini cukup rame dengan toko cenderamata dan restauran. Banyak bus-bus AKAP dari Jawa ke Bali atau NTB dan sebaliknya yang beristirahat di restauran sepanjang kawasan ini. Kawasan wisata Pasir Putih memang tandus saat kemarau, menyisakan kaktus yang merayapi bukit dan daun-daun jati yang meranggas.

Kota Panarukan yang merupakan kota pelabuhan
kini tak seramai dulu lagi

Setelah melewati hutan jati, saat jalan membelok di antara dua bukit dan pemandangan berganti menjadi hamparan sawah nan subur, maka kita akan memasuki kota Panarukan. Sesampai di kota Panarukan, membelok ke kiri ke sebuah jalan yang sempit beberapa kilometer sebelum kota Situbondo, berujung pada sebuah pelabuhan kecil, tempat Daendels berdiri menggenapkan ambisinya menyambung Jawa dalam setahun. Kota Panarukan kini seperti catatan kaki sejarah dan hanya disinggahi kapal-kapal kayu kecil. Sungguh berbeda di masa dahulunya yang jaya, dimana kapal-kapal besar sarat akan tembakau keluar masuk dari pelabuhan ini.



Sumber : National Geographic Indonesia, Harian Kompas " Ekspedisi Anyer-Panarukan"

KUPU-KUPU SAYAP KACA..bukan kupu-kupu berkaca mata

Bahasa Inggrisnya Glasswing butterfly. Sedangkan nama latinnya Greta oto, karena memang berasal dari keluarga kupu-kupu bersayap bening. Mata kita bisa melihat menembus sayapnya. Bila terkena sinar matahari, sayap itu akan berkilau merah, hijau, oranye dan kebiruan sperti gelembung sabun yang transparan.

Setiap kupu-kupu sebenarnya bersayap transparan. Namun sayap kupu-kupu dipenuhi sisik-sisik. Setiap kupu-kupu memiliki ketebalan sisik yang berbeda. Sisik-sisik inilah yang memberikan warna pada sayap kebanyakan kupu-kupu. Pada kupu-kupu sayap kaca, sisik pada sayapnya sedikit sekali atau bahkan tidak ada. Sayap transparan tersebut digunakan untuk kamuflase agar terhindar dari pemangsa. Akan tetapi, ternyata para pemangsa tidak menyukai rasa kupu-kupu sayap kaca. Bagi pemangsa tidak menyukai karena rasanya pahit. Rasa pahit itu berasal dari senyawa alkaloid yang terdapat di tubuh kupu-kupu sayap kaca. Mereka mendapatkannya dari tumbuhan yang mengandung alkaloid yang merupakan makanan mereka.
Kupu-kupu syap kaca dapat dijumpai di tempat asalnya yaitu Melsiko, Columbia, Panama, Ekuador, Kosta Rika, Venezuela, Peru dan Bolivia.

Bagi para peneliti dan ahli hutan tropis, keberadaan kupu-kupu sayap kaca menjadi indicator dari habitat yang berkualitas tinggi. Artinya, kalau masih banyak terdapat kupu-kupu sayap kaca berarti kondisi hutan masih baik. Tetapi kalau sudah jarang terdapat kupu-kupu sayap kaca berarti keadaan hutan dalam bahaya.

SUNGAI CILIWUNG...ikon lainnya Jakarta

Orang Jakarta tak pernah menyebutnya dengan istilah "sungai", tetapi menyebutnya dengan "kali"...."kali Ciliwung". Meskipun orang bilang air sungai Ciliwung itu kotor, tapi banyak juga orang yang senang tinggal di sepanjang tepinya. Di sana bahkan anak-anak bisa berenang sesukannya tanpa harus keluar uang satu sen pun. Berenang dan bersenang-senang di kali Ciliwung, itulah hobi yang dimiliki oleh anak-anak yang tinggal di sepanjang tepi sungai yang membelah ibukota Jakarta. Setiap pagi dan sore anak-anak selalu berkumpul di tepi kali, lalu bersama-sama melompat dan….byuur. Yang mereka rasakan hanyalah kegembiraan, mereka tidak pernah memikirkan bahaya apa yang akan mereka derita kelak.


Bagi orang yang tak biasa, mungkin air sungai Ciliwung itu kotor dan menjijikan. Tapi tidak bagi orang-orang yang tinggal di tepinya. Mungkin karena sudah biasa kali ya ?? Setiap hari dari pagi hingga petang, dari anak-anak sampai orang tua memanfaatkan air sungai Ciliwung. Ibu-ibu biasa mencuci baju di atas getek dari bambu. Tak hanya mencuci baju saja, bahkan untuk keperluan memasak, mereka juga memakai air sungai untuk mencuci beras yang akan dimasak. Padahal selain airnya berwarna coklat dan tentu saja kotor, sungai Ciliwung juga dimanfaatkan sebagai MCK ( mandi, cuci, kakus ) bersama.



Bahkan bila pagi hari orang yang buang hajat besar seperti berlomba, mereka tinggal jongkok berlama-lama di toilet seadanya yang mereka buat sendiri. Jangan pikir toilet itu seperti toilet yang ada di rumah, mereka cukup membuatnya dari beberapa lembar papan kayu dan membentuknya menjadi kotak yang ketinggiaannya cukup sebatas dada bila untuk jongkok. Tanpa perlu membuat lubang angsa dan septiteng, jadi kotoran langsung “pluung”…dan tinggal kita ucapkan “dadaa…” maka kotoran langsung hilang dibawa pergi air sungai Ciliwung. Tak cuma itu, sungai Ciliwung juga kotor oleh berbagai jenis sampah. Dari mulai sampah rumah tangga, batang-batang kayu dan bambu, kantong dan botol plastic, bangkai binatang, bahkan sampai kursi dan kasur bekas yang tentu saja sudah rusak. Semua sampah itu tidak lain berasal dari masayarakat di sekitar sungai Ciliwung yang selalu membuang sampah sembarangan ke sungai Ciliwung.

Menurut orang-orang tua, waktu mereka masih muda dulu, air sungai Ciliwung bersih. Sayang, sekarang jadi seperti ini. Oleh karena itu, sebagian masyarakat sudah membuat sumur sendiri. Namun masih banyak juga yang tetap menggunakan air sungai Ciliwung untuk mandi dan mencuci.

Setiap musim hujan tiba, penduduk di tepi sungai Ciliwung juga harus waspada terhadap banjir. Setiap kali di daerah hulu hujan deras, maka sudah dapat dipastikan akan terjadi banjir. Hal ini disebabkan karena daerah hulu yaitu kawasan Puncak Bogor sudah kehilangan banyak fungsi sebagi penampung air hujan. Hutan yang dulunya hijau telah berganti menjadi ratusan villa mewah.


Di luar masalah yang dihadapi sungai Ciliwung dan orang-orang yang tinggal di tepiannya, ternyata sungai ini juga merupakan sumber rejeki bagi beberapa orang. Misalnya bekerja sebagai pengemudi getek yang menyebrangkan orang dari satu tepi ke tepi seberangnya. Ada juga yang suka mengumpulkan botol-botol plastik yang hanyut terbawa air sungai. Botol itu bisa dijual kembali dan menjadi uang.

Itulah berbagai permasalahan dan keuntungan yang diberikan oleh sungai Ciliwung bagi masyarakat Jakarta, khususnya bagi mereka yang tinggal di sepanjang tepinya.

BUAH MUNDU...bulat kuning cantik

Mungkin sudah tidak asing lagi mendengar nama buah ini. Namun untuk melihatnya secara langsung mungkin tidak semua orang pernah. Bentuknya yang bulat, warnanya yang hijau muda saat masih mentah dan berubah menjadi kuning cerah saat sudah matang. Rasanya asam sedikit manis namun cukup segar. Tekstur daging buahnya lunak, kalau orang jawa menyebutnya "rodo mlenyek". Buah ini namanya Mundu. Nama ilmiahnya Granicia dulcis.

Buahnya bulat seperti tomat, kulit buahnya mengkilat

Sekilas buah Mundu ini seperti buah Kesemek. Perbedaaanya adalah : pertama, bentuk buah mundu rata-rata bulat sedikit gepeng seperti Manggis, sedang Kesemek ada yang gepeng dan ada yang bulat panjang. Kedua, warna kulit buah Mundu yang matang ialah kuning cerah mengkilat, sedang Kesemet warnanya kuning sedkit jingga dan tertutup serbuk seperti bedak. Ketiga, rasa buah Mundu asem manis, sedang Kesemek rasanya manis.

Buah yang masih muda berwarna hijau, sedang yang sudah matang
berwarna kuning atau jingga cerah


Memang sangat sulit untuk menemukan pohon buah ini. Belum tentu di satu tempat terdapat satu pohon. Kebetulan di sekitar rumah mbah saya terdapat satu pohon yang usianya sudah sangat tua. Konon pohon buah Mundu itu telah ada sejak mbah saya masih muda. Walau cuma ada satu dan tumbuhnya tepat di tepi kalen ( bahasa jawa untuk selokan atau saluran air ), pohon buah Mundu ini hampir setiap tahun selalu berbuah dan jumlahnya cukup banyak. Walau tumbuh di pekarangan orang ( namun masih saudaranya mbahku sendiri ), pemiliknya memperbolehkan siapa saja untuk mengambil. Sebab rasa buahnya yang asem membuat pemiliknya kurang suka untuk mengkonsumsinya. Kebanyakan dari mereka yang memetik karena memang doyan adalah anak-anak kecil.
Namun untuk memperoleh dan untuk mengkonsumsi buah Mundu tidaklah sangat mudah. Bentuk pohonnya lurus mengerucut dengan banyak ranting. Di mana ranting-ranting tersebut bersifat mudah patah ( istilah jawanya "pang pel" ). Jadi sangat jarang yang mau memanjat langsung untuk memetik buahnya. Kebanyakkan memilih menggunakan galah atau boso jowone "genter".

Selain cara memperolehnya sedikit susah, cara makannya juga tidak asal gigit atau "brakot" ( bahasa jawa ). Memang bagi mereka yang baru pertama kali mencoba memakannya, akan langsung saja main gigit layaknya makan apel. Maklum, bentuknya yang bikin gemes dan warnanya yang cerah akan membuat siapa saja menjadi tidak sabar untuk mengigitnya. Padahal, bila buah Mundu langsung dimakan, getah yang terdapat di dalam kulit buah Mundu sifatnya cukup keras untuk membuat kulit kita di sekitar mulut menjadi teriritasi atau "nedas" ( istilah jawanya ). Kulit kita akan memerah seperti mengalami luka bakar ringan. Rasanya sedikit perih dan gatal. Jadi cara memekan buah Mundu yang tepat ialah terlebih dahulu buah dikupas dan dicuci bersih dengan air. Baru dech bisa dimakan.

Daging buahnya berwarna kuning cukup berserat, namun teksturnya lembut

Khasiat dari memakan buah mundu ini adalah memperlancar buang air besar, karena memang daging buahnya cukup banyak mengandung serat. Selain itu kandungan vitamin C-nya juga cukup banyak. Jadi cukup baik buat yang membutuhkan asupan vitamin C. Dan satu yang pasti, dengan memakan buah Mundu ini akan membuat kita ceria dan punya banyak teman...Lho kok????..Lha yo bener..khan rasa buahnya yang kecut manis akan membuat kita yang memakannya cengar-cengir atau "pringas-pringis" seperti orang yang lagi senang..ha.ha (..maksa ya?? ). Selain itu mengingat cara untuk memperoleh buah Mundu ini sedikit susah, maka dibutuhkan kerjasama dari beberapa orang. Dari kerjasama tersebut secara otomatis akan menumbuhkan rasa pertemanan...he..he..he..( Asal saat membagi buahnya juga adil dan merata..setuju ?? ).

GENJER..sayure wong ndeso nangngeng marai ruso

Daunnya bundar sebesar telapak tangan orang dewasa dan warnanya hijau segar, tampak tebal namun tekstur permukaannya lembut dengan bulu-bulu halus di permukaanya. Tumbuh di sawah dan tepian sungai dengan tanah berlumpur dan berair. Sekilas atau bila dilihat dari jauh ( namun jangan dari jarak 100 m lebih, gak kelihatan karena kejauhan..he..he ) nampak seperti enceng gondok.


daunnya bulat kedap air dan tulang daunnya cukup jelas


Itulah tanaman yang bernama Genjer. Genjer dengan nama ilmiah Limnocharis flava biasanya banyak tumbuh di sawah setelah panen padi dan kondisi tanah belum di bajak kembali dan di sekitar daerah yang terendam air seperti tepian suaungai atau rawa. Orang jawa menamai tanaman ini dengan nama Genjer, sedangkan orang sunda menamainya Gendot.


genjer tumbuh di areal persawahan, tepian sungai dan daerah rawa
yang banyak terdapat air


Sekilas genjer mirip dengan Enceng gondok ( Eichhornia crassipes ), namun terdapat perbedaan keduanya yang mencolok. Pertama, tangkai daun Genjer kecil lurus merata, sedangkan Enceng gondok tangkai daunnya menggelembung. Kedua, daun Genjer tidak bergelombang dan tekstur permukaan daunnya lembut dengan bulu-bulu halus dipermukaannya, sedangkan daun Enceng gondok bergelombang dan permukaannya licin. Selain itu, daun Genjer sangat kedap air seperti daun Talas. Ketiga, Genjer tumbuh di tanah lumpur, sedangkan Enceng gondok tumbuh dengan mengapung di permukaan air.


sekilas mirip enceng gondok bukan ? tapi yang jelas beda


Di kampung halaman saya Klaten, Genjer sangatlah mudah ditemui. Namun di sawah, bukan di pasar-pasar. Memang karena mudah di dapat dan harganya sangatlah murah, orang-orang tidak mau menjualnya, karena cari saja ke sawah bisa pulang bawa genjer sebakul. Biasanya genjer dimasak tumis atau oseng-oseng. Rasanya cukup enak dan renyah seperti sawi hijau.


bila sudah dimasak rsanya cukup lezat...teksturnya tetap renyah


Tak hanya orang dewasa saja yang menyukai Genjer untuk dikonsumsi. Anak-anak di kampung saya pun sangat menyukai Genjer. Akan tetapi kesukaan anak-anak terhadap Genjer bukanlah untuk dimakan. Memang begitulah anak-anak pada umumnya, mereka kurang menyukai sayur. Sayur yang biasa kita makan saja mereka ogah, apalagi Genjer yang bagi mereka sedikit aneh. Anak-anak menyukai Genjer sebagai mainan. Kok bisa ? Pasti itu yang menjadi pertanyaan. Ternyata dengan memanfaatkan daun genjer dan tangkainya, anak-anak justru bisa bermain secara kreatif. Yaitu dengan menjadikan daun Genjer tadi menjadi perahu layar. Caranya sangat sederhana. Pertama, cari daun Genjer yang cukup lebar beserta tangkainya. Lalu lengkungkan tangkainya ke daun sampai menancap. Dan...taaaarrraaaa..jadi dah perhau layarnya. Tinggal dibawa ke sungai atau kolam. Dengan memanfaatkan tiupan angin anak-anak bisa berlomba adu cepat dengan kapal layar yang mereka ciptakan sendiri. Kreatif bukan ?

Tak cuma itu saja manfaat dari Genjer. Kebetulan Mbah putri saya di desa juga memanfaatkan daun Genjer untuk campuran ransum makanan bebek peliharaan. Daun Genjer dicacah kasar dan dicampur dengan dedak dan tinggal tambahakan air. Selain menghemat biaya pakan bebek, ternyata daun Genjer membuat bebek-bebek Mbah putri saya menjadi gemuk ginuk-ginuk..he..he.. Dan kotoran bebeknya pun tak begitu berbau, serta warnanya sedikit indah yaitu kehijau-hijauan..he..he..


Sumber : Mbah Putri di kampung, Wikipedia indonesia