Tampilkan postingan dengan label JAJANAN ( FOOD ). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label JAJANAN ( FOOD ). Tampilkan semua postingan

Minggu, 21 November 2010

SEPANJANG APA TEMPEmu ??

Siapa yang tak kenal tempe ? Jika sampai ada yang tidak tahu kita sebut saja ia dengan "kelewatan jaman". Ya..tempe memang makanan asli Indonesia. "Itu dulu.." begitu sekarang banyak orang bilang. Karena sekarang secara hak kepemilikan, tempe telah dipatenkan oleh Jepang. Namun biarlah, semua orang asli Indonesia juga tetap yakin kalau tuh tempe asalnya dari Indonesia ( cuma kedelainya saja yang bisa dari mana-mana he.he...).

Di kesempatan ini kita tidak akan membahas tentang siapa pemilik tempe, yang pasti semua orang itu berhak untuk makan tempe sepuasnya. Selama ini kita sering menjumpai rupa-rupa tempe, dari yang ukuran seKTP sampai seukuran buku tulis, dari yang berbahan dasar kedelai, kacang-kacangan sampai ampas kedelai ( tempe gembus ), dari yang berbungkus daun jati, pisang ataupun plastik.

Bagaimana ? Cukup anjang bukan ukuran tempenya.

Tetapi pernahkah ada yang melihat tempe dengan ukuran 1 meter atau bahkan lebih ? Jika kita berkunjung ke sebuah pasar kecamatan di wilayah barat Kabupaten Ngawi tepatnya Pasar Ngrambe, kita akan menjumpainya. Tempe disini pada umumnya berukuran "long size" bahkan "king size". Rata-rata pengerajinnya mencetak dalam ukuran panjang 1-2 meter dengan pembungkus menggunakan daun jati. Alasan pemilihan ukuran tempe ialah agar saat membawanya ke pasar tidak repot. "Kok gitu ???" Begini, jika dikemas satuan seukuran KTP, jumlahnya jadi banyak. Jadi repot untuk memasukkannya ke keranjang, mesti satu-satu. Nah..kalau dibuat dengan ukuran 1 meteran bisa gampang bawanya, bisa dipanggul, ke tenteng atau dikempit (dijepit) di kelek (ketiak)...(weeek....he.he..). Jika ingin yang ukuran kecil tinggal potong-potong saja. Bahkan kalau bosan nunggu pembeli, penjual bisa main pedang-pedangan memakai tempe..ha..ha..ha.

Lalu bagaimana jika pembeli ingin membelinya ? Gampang..pembeli pengen beli yang utuh atau seperlunya saja. Kalau beli utuh yang tinggal ditukar sama 1 lembar uang Rp.20000 ( ini menurut perhitungan penulis, sebab sepotong tempe ukuran 10 cm harganya Rp.2000...jadi penulis agak paranormal gitu...ha..ha..). Yang pasti dijamin rasanya lebih ajib dari pada buatan Jepang, soalnya pakai daun jati yang akan memberikan aroma dan rasa tempe yang sangat-sangat tempe.......monggo plesiran ke Ngrambe dan belanja tempenya dan rasakan kepanjangan tempenya...

Senin, 26 April 2010

CABUK RAMBAK...kuliner langka asli Kota Solo

" cabuk rambak ???? opo kui ??"....mungkin itu kebingungan yang akan diutarakan oleh banyak orang. Mungkin bagi masyarakat kota Solo nama makanan tersebut tidaklah asing. Namun untuk mendapatkannya cukuplah repot di kota Solo yang semakin maju.

Awalnya saya mendengar nama "cabuk rambak" dari mbak saya yang kebetulan tinggal di pinggir kota Solo. Walau saya tinggal di Klaten yang mungkin dari segi jarak tidaklah terlalu jauh dari Solo, namun benar-benar saya baru mendengar nama "cabuk rambak" untuk yang pertama kali. Menurut mbak saya tidaklah mudah untuk bisa mencicipi makanan itu. Namun suatu ketika saat sedang berkeliling di Singosaren Plaza di daerah Coyudan, secara tidak sengaja saya berjumpa dengan seorang mbah yang berjualan cabuk rambak di lantai dasar plaza ( tepatnya di pojok selatan plaza depan pos polisi ). Tidak menyangka kalau ketemunya malah di mall, bukannya di pasar tradisional. Harganya murah banget cuma Rp.500 sepincuk (itu dulu di tahun 2003). Menurut mbah yang jualan, beliau sudah jualan sejak 15 tahun yang lalu. Memang dulu jualannya di pasar tradisional, berhubung tidak terlalu laku, akhirnya jualan di pelataran mall dan malah laris.


Bumbu cabuk ialah sambel yang terbuat dari kelapa yang diparut, kemiri, wijen, daun jeruk dan lombok lalu diulek sampai halus dan rata. Bumbu yang sudah halus kemudian diberi air secukupnya. Sekilas bumbu cabuk seperti bumbu pecel, namun teksturnya lebih halus dan warnanya lebih putih, dan tentu saja rasanya beda. Cabuk rambak sudah terbilang makanan langka dan hanya bisa dijumpai hanya daerah-daerah tertentu. Penyajian Cabuk rambakpun cukup unik, yaitu dengan pincuk (daun pisang yang dilipat) dan ketupat dipotong-potong kecil dan diatasnya dibubuhi cabuk. Sangat cocok jika makan Cabuk rambak dengan karak. Karak ialah krupuk yang terbuat dari beras, teksturnya kasar dan warnanya kecoklatan.


Rupanya di kota Solo, untuk bisa mencicipi cabuk rambak tidak cuma ada di Singosaren Plaza. Tempat lain yang terdapat penjual cabuk rambak diantarannya adalah di pasar Gede dan di pasar depan Pura Mangkunegaran.