Tampilkan postingan dengan label MANUSIA DAN BUDAYA ( HUMAN and CULTURE ). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MANUSIA DAN BUDAYA ( HUMAN and CULTURE ). Tampilkan semua postingan

Jumat, 01 April 2011

TAK ADA SUMUR DI SINI

Kita yang tinggal di desa di kaki gunung tentulah beruntung bila dibandinggkan dengan yang tinggal di perkotaan. Di kaki gunung air berlimpah dan kualitasnya masih cukup baik. Sedang di kota air bersih terbatas. Selain jumlah air berlimpah, di kaki gunung cara mendapatkan airnya juga rada beda. Dengan kondisi geografis yang berbukit-bukit tentu tidak mudah membuat sebuah sumur untuk mendapatkan air. Kalaupun ingin tetap menggali sumur, diperlukan kerja ekstra berat, perlu banyak tenaga dan biaya. Hal ini disebabkan karena letak air tanah di daerah kaki gunung cukuplah dalam. Namun masyarakat di kaki gunung punya solusi yang lebih baik dan mudah dalam mendapatkan air bersih.

Di kaki gunung pepohonan masih cukup lebat sehingga banyak bisa ditemui mata air. Masyarakat cukup memanfaatkan keberadaan mata air tersebut untuk memenuhi kebutuhan akan air bersih. Untuk menyalurkan air dari sumbernya ke rumah-rumah masyarakat bergotong royong membangun saluran air. Mereka menyalurkan air dengan menggunakan pipa-pipa besi dan PVC. Dari mata air, air disalurkan ke setiap desa dengan pipa besi ukuran cukup besar, dimana di setiap desa telah ada bak ukuran besar sebagai tampungan sementara. Setelah dari bak besar, air disalurkan ke setiap dusun dengan pipa PVC yang ukurannya lebih kecil daripada pipa besi tadi.

Bak ini pasti ada di setiap dusun,
jadi air tertampung dahulu sebelum di alirkan ke rumah

Di setiap dusun telah terdapat bak air denga ukuran yang lebih kecil. Barulah dari bak ukuran kecil tadi air disalurkan ke rumah-rumah dengan menggunakan selang pastik seukuran jari. Di rumahpun, setiap warga sudah menyiapkan dua buah bak besar guna menampung air. Satu bak pertama sebagai tampungan awal sekaligus cadangan, dan bak kedua letaknya di kamar mandi. Bak kedua inilah air dipakai untuk kebutuhan sehari-hari.



Dengan selang-selang plastik inilah, air mengalir ke rumah

Memperoleh air langsung dari mata air bukan berarti ketersediannya air akan selalu melimpah. Bila musim kemarau, debit air bisa kecil. Namun bila saat musim hujan, debit air cukup banyak. Tidak cukup sampai disini saja. Ternyata walaupun kita tak perlu menimba dalam mendapatkan air, bukan berarti pipa-pipa penyalur air tadi tidak lepas dari perwatan. Memang untuk pipa besi ukuran besar bisa awet sangat lama, akan tetapi pipa jenis PVC perlu diganti secara berkala setiap sekian tahun sekali. namun yang paling sering memerlukan pemeriksaan adalah pipa plastik yang menuju ke rumah tadi. Sering kali pipa plastik ini tersumbat oleh lumut, sehingga perlu sering-sering dibersihkan dengan cara di"ogrok-ogrok" dengan menggunakan kawat panjang. Jadi..agar air tetap mengalir sampai rumah..lumut harus disingkirkan...karena di gunung susah bikin sumur.

Kita yang tinggal di desa di kaki gunung tentulah beruntung bila dibandinggkan dengan yang tinggal di perkotaan. Di kaki gunung air berlimpah dan kualitasnya masih cukup baik. Sedang di kota air bersih terbatas. Selain jumlah air berlimpah, di kaki gunung cara mendapatkan airnya juga rada beda. Dengan kondisi geografis yang berbukit-bukit tentu tidak mudah membuat sebuah sumur untuk mendapatkan air. Kalaupun ingin tetap menggali sumur, diperlukan kerja ekstra berat, perlu banyak tenaga dan biaya. Hal ini disebabkan karena letak air tanah di daerah kaki gunung cukuplah dalam. Namun masyarakat di kaki gunung punya solusi yang lebih baik dan mudah dalam mendapatkan air bersih.

Di kaki gunung pepohonan masih cukup lebat sehingga banyak bisa ditemui mata air. Masyarakat cukup memanfaatkan keberadaan mata air tersebut untuk memenuhi kebutuhan akan air bersih. Untuk menyalurkan air dari sumbernya ke rumah-rumah masyarakat bergotong royong membangun saluran air. Mereka menyalurkan air dengan menggunakan pipa-pipa besi dan PVC. Dari mata air, air disalurkan ke setiap desa dengan pipa besi ukuran cukup besar, dimana di setiap desa telah ada bak ukuran besar sebagai tampungan sementara. Setelah dari bak besar, air disalurkan ke setiap dusun dengan pipa PVC yang ukurannya lebih kecil daripada pipa besi tadi. Di setiap dusun telah terdapat bak air denga ukuran yang lebih kecil. Barulah dari bak ukuran kecil tadi air disalurkan ke rumah-rumah dengan menggunakan selang pastik seukuran jari. Di rumahpun, setiap warga sudah menyiapkan dua buah bak besar guna menampung air. Satu bak pertama sebagai tampungan awal sekaligus cadangan, dan bak kedua letaknya di kamar mandi. Bak kedua inilah air dipakai untuk kebutuhan sehari-hari.

Memperoleh air langsung dari mata air bukan berarti ketersediannya air akan selalu melimpah. Bila musim kemarau, debit air bisa kecil. Namun bila saat musim hujan, debit air cukup banyak. Tidak cukup sampai disini saja. Ternyata walaupun kita tak perlu menimba dalam mendapatkan air, bukan berarti pipa-pipa penyalur air tadi tidak lepas dari perwatan. Memang untuk pipa besi ukuran besar bisa awet sangat lama, akan tetapi pipa jenis PVC perlu diganti secara berkala setiap sekian tahun sekali. namun yang paling sering memerlukan pemeriksaan adalah pipa plastik yang menuju ke rumah tadi. Sering kali pipa plastik ini tersumbat oleh lumut, sehingga perlu sering-sering dibersihkan dengan cara di"ogrok-ogrok" dengan menggunakan kawat panjang. Jadi..agar air tetap mengalir sampai rumah..lumut harus disingkirkan...karena di gunung susah bikin sumur.

Selasa, 03 Agustus 2010

SI RAMBUT GIMBAL....bukan rasta bukan punk

Ada sebuah daerah di Jawa Tengah yang benar-benar tepat di tengah-tengah Jawa Tengah. Udaranya yang sejuk dengan pemandangan alam yang elok berupa gunung berapi dan jajaran pegunungan. Daerah tersebut bernama Plateu Dieng. Plateu adalah sebuah dataran tinggi yang puncaknya berupa dataran rata yang luas. Dieng merupakan salah satu tempat terindah di Jawa Tengah yang menjadi daya tarik wisata. Tidak hanya kumpulan gunung berapinya seperti : Gunung Prahu, Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, namun juga perbukitan dengan ladang sayurannya. Selain itu terdapat juga komplek Candi Arjuna yang mungkin sebagian besar masyarakat sudah mengenalnya.

Dataran Tinggi Dieng, tampak Gunung Sindoro yang gagah
di sebelah kanan


Komplek Candi Arjuna

Ternyata kekayaan yang dimiliki oleh Dieng tidak hanya gunung berapi, jajaran pegunungan dan hamparan lading sayur mayur yang elok saja. Di sana juga menyimpan kekayaan budaya yang sangat unik, yaitu tradisi potong rambut gimbal. Tradisi ini terdapat di Desa Dieng Kulon Kecamatan Batur Kabupaten Banjarnegara. Walau tidak semua tak semua anak di desa berambut gimbal, namun jumlah anak yang berambut gimbal cukup banyak. Gimbal tersebut tidak seperti yang dimiliki oleh anak-anak penggemar aliran rasta atau anak punk yang dengan sengaja membuatnya menjadi gimbal. Gimbal yang dimiliki anak-anak di dataran Dieng ini terjadi secara alami.

Si anak berambut gimbal

Warga setempat percaya bahwa anak gimbal tersebut adalah titisan dari Mbah Kolodite yang diyakini secara turun-temurun sebagai kiai yang memilki ilmu spiritual tinggi di Dataran Tinggi Dieng pada dahulu kala. Awal mulanya seorang anak memiliki rambut gimbal adalah ketika mereka akan menginjak usia satu tahun. Anak-anak itu mengalami demam tinggi yang bagi medis tidak bisa mengatasinya. Hingga beberapa minggu setelah mengalami demam, timbullah rambut gimbal pada anak-anak itu. Jika rambut gimbal itu disisir, rambut itu akan kembali gimbal. Sementara jika rambut gimbal itu dipotong, anaknya akan sakit keras. Oleh karena itu diperlukan ritual khusus untuk memotong rambut gimbal.

Permintaan anak berambut gimbal harus dituruti sebagai syarat ritual, selain juga anak gimbal bersedia mengikuti ritual atas kemauannya sendiri. Ritual potong rambut gimbal dilaksanakan di Komplek Candi Arjuna. Permintaan anak gimbal bermacam-macam dan terkadang lucu atau aneh. Ada yang meminta tempe gembus setampah, bebek lima ekor, telur asin seember, seekor kambing dan lain-lainnya.

Rirual pemotongan rambut gimbal

Setelah semua kebutuhan ritual terpenuhi, termasuk menambahkan ikatan kain di kepala dan menyelimuti tubuh anak gimbal dengan kain mori serta anak gimbal telah dibersihkan dengan air Sendang Sedayu, satu per satu anak gimbal didudukkan di tangga candi. Ritual pemotongan rambut gimbal dimulai, dengan diiringi rapalan doa dari sesepuh desa, orangtua dan warga yang hadir menyertai ritual.

Itulah salah satu kekayaan budaya yang dimiliki Dataran Tinggi Dieng yang juga merupakan kekayaan budaya Negara kita tercinta. Sampai sekarang ritual potong rambut gimbal ini masih rutin dilaksanakan. Bukan saja untuk menjalankan kepercayaan yang sudah lama ada, tetapi juga demi tetap lestarinya budaya setempat agar tidak tergerus jaman.


Sumber : Harian Kompas dan infojawatengah.com

Rabu, 12 Mei 2010

LORI....kereta tenaga manusia

Kawasan Lodan di Jakarta Utara merupakan salah satu kawasan kumuh di Jakarta. Terdapat banyak gubuk liar yang berdiri di kanan-kiri sepanjang rel kereta api dari Stasun Lodan sampai stasiun Kampung Bandan. Rel kereta api tersebut sudah lama tak terpakai walau kondisinya masih cukup baik. Oleh karena itu orang-orang dengan leluasa membangun gubuk di sekitar rel.

gubuk liar tumbuh subur di sepanjang rel kereta api yang tidak terpakai

Walau termasuk daerah kumuh, kawasan Lodan memiliki moda transportasi yang unik, yaitu “lori”. Lori yang dimaksud bukan seperti lori yang digunakana oleh petugas jawatan kereta api untuk memeriksa rel. Lori yang dimaksud hanya terbuat dari kayu dan papan dengan roda berupa laker bekas. Sebenarnya untuk dikatakan sebagai kereta kurang cocok, lebih tepat bila disebut gerobak bila dilihat dari wujudnya.

benar-benar kereta tenaga manusia


roda kereta merupakan laker bekas roda mobil

Dengan lori yang dibuat sendiri, masyarakat sekitar memanfaatkannya sebagai transportasi tenaga manusia. Kenapa disebut tenaga manusia ? Karena memang untuk menjalankannya harus didorong oleh manusia. Jadi sumber energinya bukan bensin atau solar, tetapi sembako alias nasi..he..he..

masyarakat membuat sendiri kereta lori dari kayu dan laker

Banyak warga sekitar yang menggunakannya untuk bepergian pergi pulang dari kawasan Lodan ke Kampung Bandan sejauh kurang lebih 1 km. Jangan berharap dengan menggunakan lori ini, penumpang akan mendapatkan bangku yang nyaman untuk duduk. Bangku yang ada hanya berupa kayu selebar 10-15 cm yang sebenarnya merupakan kerangka dari lori. Tak cuma bangku saja yang kurang nyaman, bila panas terik, penumpang harus rela berpanas-panas ria da bila hujan harus rela basah kuyup.

Yang menggunakan jasa lori mulai dari anak-anak sekolah, pedagang, ibu rumah tangga dan para pekerja. Dengan membayar Rp. 3000 para penumpang akan diantar dari staiun Lodan sampai stasiun Kampung Bandan, begitu juga sebaliknya. Para pendorong lori yang kebanyakan remaja mengaku, setiap hari mereka sanggup mengumpulkan uang Rp. 15.000 sampai Rp. 50.000 perharinya. Bila sedang ramai bahkan mereka sanggup mengumpulkan Rp. 75.000 per hari.

Namun sekarang penghasilan para pendorong lori sudah menurun jauh. Hal ini disebabkan oleh kebaran hebat yang melanda gubuk-gubuk kumuh di sepanjang rel beberapa saat lalu. Setelah kebakaran itu banyak orang-orang yang pindah ke tempat lain, padahal merekalah yang selama ini memanfaatkan jasa lori. Walaupun begitu, moda transportasi lori ini sampai sekarang masih tetap ada demi sesuap nasi ataupun membayar uang sekolah.


Sumber : Liputan Siang TPI, Kamis 13 Mei 2010

Senin, 26 April 2010

UPACARA KASADA..ungkapan syukur masyarakat Tengger

Kaldera Bromo dilihat dari puncak Pananjakan

Siapa yang tak kenal dengan Gunung Bromo ?. Hampir semua sudah kenal, atau paling tidak pernah mendengar namanya. Bicara mengenai Gunung Bromo pasti tak lepas dari nama kawasan dan penduduk aslinya, yaitu Tengger. Penduduk Tengger yang beragama hindu merupakan masih keturunan dari masyarakat Majapahit yang mengungsi dari tempat asalnya karena desakan kerajaan islam. Nama Tengger berasal dari gabungan nama sepasang suami istri, yaitu Roro Anteng dan Joko Seger. Roro Anteng adalah salah satu putri Prabu Brawijaya, penguasa Majapahit. Sedangkan Joko Seger adalah pemuda keturunan Brahmana. Di mana di masa lalu pasangan tersebut di diharuskan mengorbankan putera terakhirnya dengan cara membuangnya ke kawah gunung Bromo untuk menghindari terjadinya bencana.

Pengorbanan putera yang dilakukan oleh Roro Anteng dan Joko Seger itulah yang menjadi cikal bakal upacara YADNYA KASADA, yang sampai sekarang masih dilakukan oleh masyarakat Tengger setiap tahunnya. Perayaan dilakukan pada tanggal 14 atau 15 pada bulan purnama, pada bulan ke-12 yang biasa disebut KASADA menurut kalender Tengger. Pada tahun ini puncak perayaan KASADA jatuh pada tanggal 5-6 September 2009.
Prosesi YADNYA KASADA berlangsung beberapa hari, yang diawali dengan mendhak tirta atau mengambil air suci untuk sembahyang. Puncak prosesinya ditandai dengan labuh sesaji ke kawah Gunung Bromo. Sesaji yang dilabuh atau biasa disebut ongkek berupa hasil bumi atau ternak. Labuh sesaji dimaksudkan untuk mengucapkan syukur kepada Sang Hyang Widhi Wasa sebagai penguasa alam.

sesaji dan hasil bumi di doakan terlebih dahulu sebelum di labuh

Sejak dahulu, labuh sesaji merupakan peristiwa sakral yang dilakukan warga suku Tengger, baik secara kelompok maupun secara pribadi. Ribuan warga Tengger dari puluhan desa di Pegunungan Bromo berduyun-duyun menapaki lereng Gunung Bromo untuk melarung sesaji, yang sebelumnya didoakan oleh para dukun atau pemuka adat. Pada puncak sembahyangan Yadnya Kasada, semua dukun melakukan pujastuti atau membaca mantra dalam bahasa Jawa kuno secara serentak untuk mendoakan sesaji.

Hasil bumi yang akan dilabuh dibawa ke kawah Bromo

Sesaji itu bisa berupa beberapa ikat padi, hasil kebun seperti wortel, kol, terong, ubi, singkong, jeruk, apel dan berbagai macam buah dan sayuran. Bahkan tak ketinggalan kambing atau kerbau juga menjadi sesaji.

Berebut hasil bumi yang dilabuh ke kawah Bromo

Namun sayang, sekarang kesakralan larung sesaji terganggu dengan banyaknya pendatang dari daerah luar Tengger yang hanya berniat untuk memdapatkan sesaji. Tak jarang mereka meminta secara langsung kepada warga agar sesaji tidak dilempar ke kawah Gunung Bromo. Puluhan pendatang tersebut bahkan mendirikan tenda-tenda di bawah bibir kawah. Mereka bahkan menggunakan senjata berupa galah dengan jaring diujungnya guna menangkap sesaji yang dilempar.

DAUN QAT....sirihnya orang Afrika Timur

Pernah ada yang mengdengar nama daun qat ( baca : kot ) ? Memang banyak yang belum mendengarnya. Tanaman ini banyak tumbuh di daerah Yaman dan wilayah Tanduk Afrika yang meliputi Somalia dan Etiopia.



Coba ambillah sehelai daun yang rasanya pahit dan kunyahlah. Tak berapa lama, anda akan merasakan nafsu makan berkurang, merasa lebih waspada dan rasa gembira yang sedikit berlebihan. Itulah efek bila mengkomsumsi daun qat. Bagi para pekerja di daerah di mana daun qat berasal, daun qat telah dijadikan stimulan untuk menambah tenaga selama ratusan tahun. Qat juga dikonsumsi oleh para pria untuk bersantai di sore hari. Kini, penggunaan daun qat kian populer dan meluas, didorong oleh semakin banyaknya orang yang tinggal di perkotaan, mudahnya mendapatkan uang dan longgarnya adat-istiadat.



Orang-orang di Somalia bahkan mengunyahnya di pagi hari di jalanan. Tak ketinggalan anak-anak dan ibu menyusui juga mengunyahnya. Setiap hari, daun qat dikirim ke daratan Eropa, Australia dan Amerika Utara untuk memenuhi permintaan para ekspatriat Afrika dan Yaman yang tinggal di sana. Di Etiopia, daun qat menjadi sumber pendapatan terbesar di sektor perdagangan luar negeri.



Namun sekarang muncul kekhawatiran mengenai timbulnya masalah kesehatan akibat penggunaannya yang berlebihan. Bahkan sejumlah negara di Eropa terlibat perdebatan, melegalkan daun ini seperti tembakau atau melarangnya seperti mariyuana ?
Daun qat bisa membuat anda ditangkap di Amerika Serikat, Kanada dan beberapa negara di Eropa. Sedangkan di Inggris, penggunaan daun qat boleh-boleh saja.



Sumber : Karen E. Lange ( National Geographic Indonesia, November 2009 )

JALAN RAYA POS

Jalan Raya Pos ini terbentang dari Anyer ( Banten ) sampai ke Panarukan ( Jawa Timur ) sejauh kurang lebih 1000 km, tepatnya 1159 km. Dibangun oleh seorang Belanda yang menjabat sebagai Gubernur Hindia Belanda ke-36 bernama Herman Willem Daendels. Ia mendarat di Indonesia tepatnya di Anyer Lor pada tanggal 5 Januari 1808.

Jalan yang diberi warna merah tebal merupakan jalan raya pos
dari Anyer sampai Panarukan

Tujuan Daendels membangun Jalan Raya Pos tak lain ialah untuk mempertahankan Jawa dari serbuan Inggris. Daendels tahu bahwa tanpa adanya akses jalan yang memadai, pasukannya tidak dapat bergerak cepat dan pulau Jawa sebesar itu tak bisa dipertahankan. Seluruh jalan yang dibangun bukan merupakan jalan yang baru, namun cukup melebarkan jalan yang telah ada dan membuka beberapa ruas jalan yang benar-benar baru. Dalam mewujudkan keinginannya, Daendels mengerahkan ribuan kaum pribumi dengan dibantu oleh para Bupati yang daerahnya akan dilalui Jalan Raya pos. Dalam buku Memoir of the Conquest of Java, menyebutkan setidaknya 12 ribu orang tewas.

Anyer 0 km tepat di pinggir pantai
ditandai dengan tugu kecil bertuliskan " Anyer 0 km"


Ruas Anyer - Batavia merupakan ruas pertama yang dilebarkan. jalan ini sekarang tergolong kelas I yang menghubungkan pesisir barat Banten dengan Jakarta. Dari Anyer, jalan masuk ke Cilegon Utara. Dari Cilegon, jalan itu membelok ke timur laut menuju alun-alun Istana Surosowan di Banten Lama. Daerah rawa-rawa menghalangi Jalan Pos ke timur, sehingga Belanda membelokkannya ke kota Serang di selatan, yang sekarang menjadi ibukota propinsi Banten. Dengan medan yang datar, jalan itu mencapai kota Tangerang. Daendels lalu masuk Jakarta melalui Grogol, dari jalan Daan Mogot ke arah Pangeran Tubagus Angke, sampai Harmoni ( sekarang jalan Gajah Mada dan Hayam Wuruk ).

Harmoni yang dulu sangatlah berbeda dengan sekarang

Di Jakarta, Daendels merobohkan benteng Jan Pieterszoon Coen di Kota Intan, Jakarta Utara dan memindahkan semua markas militer ke Weltevreden ( sekarang Gambir ). Ia juga memilih Waterlooplein ( yang sekarang menjadi RSPAD Gatot Subroto ) sebagai kantornya.

Dari Jakarta, jalan pos diteruskan ke selatan menuju Bogor. Setelah melewati Depok dan Cibinong ( sekarang jalan raya Bogor ), jalan raya pos memasuki kota Bogor yang sekarang menjadi Jalan Raya Pajajaran dari kawasan Warung Jambu, Kampus IPB Baranangsiang sampai ke Tajur. Sampai di Bogor, Daendels menempati Istana Gubernur pendahulunya - sekarang Istana Bogor - dan memperluasnya.

Istana Bogor yang pernah dipakai oleh Daendels

Masalah mulai timbul ketika menanjak di Megamendung untuk mencapai Cianjur. Mereka harus memotong punggungan utara gunung Pangrango menembus perkebunan teh yang terkenal curam. Medan yang berbukit-bukit dan curah hujan yang tinggi menyebabkan banyak pekerja yang kelaparan, sakit dan akhirnya tewas. Menurut Nicolaus Engelhard ( salah satu mantan Gubernur Jawa ) menulis, 500 orang tewas di ruas Megamendung saja.

Jalur Puncak, medannya yang berbukit-bukit
dan dulu masih berupa hutan yang lebat

Dari Cianjur jalan mendaki lagi di Padalarang lalu turun ke Bandung. Namun karena jalan yang di bangun tidak melewati ibukota Bandung di Krapyak, maka Daendels memerintahkan penguasa Bandung saat itu untuk memindahkan ibukotanya ke utara sejauh 10 km, tepat di Jalan Raya Pos. Titik nol kilometer itu sekarang tepat di depan Gedung Bina Marga dan menjadi ruas Jalan Asia-Afrika.

Bandung 0 km tepat berada di depan kantor Bina Marga

Dari situ Jalan Raya Pos menuju timur ke jalan Jendral Sudirman, Jendral Ahmad Yani, melewati Gedung Sate terus ke arah Cileunyi, Jatinangor, membelok ke utara menuju Sumedang.

Di Ciherang menjelang kota Sumedang, Daendels mendapat perlawanan dari Bupati Sumedang Pangeran Kusumadinata IX dikarenakan banyak penduduk yang tewas saat memapas cadas Ciherang. Memang tidak terjadi pertempuran di tempat itu. Namun saat bertemu dengan Daendels, Pangeran Kusumadinata berjabat tangan dengan menggunakan tangan kiri.

Di Padas Pangeran terdapat patung Pangeran Kusumadinata IX
yang berjabat tangan dengan Daendels dengan tangan kiri


Dari kejadian tersebut, Daendels tahu bahwa sang pangeran sedang marah. Kini Ciherang disebut Cadas Pangeran dan menjadi lintas utama Bandung - Cirebon.
Pada mulanya, Jalan Raya Pos tidak akan melewati kota Cirebon. Jalan Raya Pos berakhir di Karangsembung ( sekitar 10 km selatan kota Cirebon ) dan akan langsung diteruskan ke Jawa Tengah. Namun Bupati Cirebon meminta Daendels untuk menyambung jalan tersebut sampai ke kotanya. Dari Cirebon, Jalan Raya Pos langsung masuk jalur Pantura melewati kota Brebes, Tegal, Pemalang, Pekalongan, Batang dan Kendal. Sebelum sampai di Kendal Jalan Raya Pos akan melewati rimbunnya hutan jati yang diberi nama Alas Roban.

Jalur Pantura yang membelah hutan jati Alas Roban
merupakan jalur transportasi darat tersibuk di Indonesia


Pantura telah lama menjadi tulang punggung perekonomian di pulau Jawa, di mana hilir mudik kendaraan pengangkut jutaan penumpang dan berbagai jenis barang antar kota. Di Indonesia, hampir selama 200 tahun tidak ada jalan yang sesibuk jalur Pantura. Dari Cirebon hingga Semarang dan terus ke timur sampai Tuban, Jalan raya Pos melewati kota-kota yang sarat dengan sejarah. Di Semarang, Jalan Raya Pos membelah pusat kota di Lawang Sewu yang dulu menjadi kantor jawatan kereta api Belanda, terus melaju ke jalan Pemuda. Orang mengenalnya sebagai kota tua Semarang, yang dipisahkan dari kota baru oleh Sungai Semarang.

Tugu Muda dan gedung Lawang Sewu
dua ikon kota Semarang

Setelah melewati kota Semarang, jalan ini terus menuju ke arah timur melewati kota Kudus, Demak, pati dan Rembang, membagi alun-alun kota ditengahnya. Memasuki Jawa Timur, Jalan Raya Pos melewati kota Tuban, gresik dan langsung masuk ke kota Surabaya melalui jembatan merah, lurus ke jalan Veteran dan terus ke Selatan.

Jembatan Merah

Selepas Surabaya, Jalan Raya pos masuk ke Wonokromo, Sidoarjo dan Porong, tiga kota satelit yang sulit dibedakan lagi dengan Surabaya karena laju industrinya sangat pesat. Namun saat ini ketiga kota kecil itu resah, karena luapan lumpur Lapindo sejak 3,5 tahun yang lalu dan sampai saat ini bukannya berhenti justru semakin meluas.

Jalan Raya Porong kini hampir selalu tergenang oleh luapan lumpur Lapindo

Di Gempol tepatnya di ujung jalan tol, setelah membelok ke timur, Jalan raya Pos sampai di Pasuruan. Rel-rel kereta pengangkut tebu yang merupakan saksi kolonialisme masih bisa dilihat, terbengkalai siring surutnya jaman gula. rel-rel tersebut muncul dan hilang diantara rumah-rumah penduduk yang dulunya ladang tebu. Ruas jalan terus ke timur menuju Bangil, sebuah kota kecamatan kecil yang sarat denga pesantren. Sekarang kota ini sangatlah rame, banyak yang menyangka kota ini adalah kota Pasuruan. Dikarenakan jalanannya yang rindang oleh berbagai pepohonan dan banyak kantor-kantor pemerintah yang memiliki kantor cabang pembantu di kota ini. Selain itu banyaknya pertokoan dan pusat perbelanjaan juga turut meramaikan kota ini.

Keluar dari Pasuruan ke arah Probolinggo, 10 km ke arah timur terdapat Pembangkit Listrik Tenaga Uap ( PLTU ) Paiton dengan empat cerobong asap yang besar dan tinggi seolah mencuat dari laut Jawa di bawah tebing yang kering dan tandus.
Di sebelah timur PLTU Paiton ini pulalah pada tahun 2003 yang lalu terjadi kecelakaan maut yang melibatkan sebuah truk kontainer dengan sebuah bus pariwisata dari Jogja yang menewaskan 55 orang penumpang bus. Memang jalan raya di sekitar PLTU Paiton medannya berbelok-belok dan naik turun cukup rawan untuk terjadi kecelakaan, terutama di malam hari.

Jalan Raya Pos berada tepat di depan PLTU Paiton

Selepas dari Paiton, di kanan dan kiri jalan raya mulai menghijau kembali ketika memasuki Kraksaan, Besuki. Daerah ini memang subur meskipun pada musim kemarau, sehingga banyak penduduk sekitar yang bermatapencaharian sebagai petani tembakau. Selain itu di sepanjang jalan raya Kraksaan banyak terdapat lokasi pembibitan udang.
14 km arah tenggara dari Besuki, Jalan Raya Pos memasuki kawasan wisat Pasir Putih. Jalan raya di sini berbatasan langsung dengan laut. Pasir pantainya yang putih menyebabkab daerah ini cukup rame dengan toko cenderamata dan restauran. Banyak bus-bus AKAP dari Jawa ke Bali atau NTB dan sebaliknya yang beristirahat di restauran sepanjang kawasan ini. Kawasan wisata Pasir Putih memang tandus saat kemarau, menyisakan kaktus yang merayapi bukit dan daun-daun jati yang meranggas.

Kota Panarukan yang merupakan kota pelabuhan
kini tak seramai dulu lagi

Setelah melewati hutan jati, saat jalan membelok di antara dua bukit dan pemandangan berganti menjadi hamparan sawah nan subur, maka kita akan memasuki kota Panarukan. Sesampai di kota Panarukan, membelok ke kiri ke sebuah jalan yang sempit beberapa kilometer sebelum kota Situbondo, berujung pada sebuah pelabuhan kecil, tempat Daendels berdiri menggenapkan ambisinya menyambung Jawa dalam setahun. Kota Panarukan kini seperti catatan kaki sejarah dan hanya disinggahi kapal-kapal kayu kecil. Sungguh berbeda di masa dahulunya yang jaya, dimana kapal-kapal besar sarat akan tembakau keluar masuk dari pelabuhan ini.



Sumber : National Geographic Indonesia, Harian Kompas " Ekspedisi Anyer-Panarukan"

SUNGAI CILIWUNG...ikon lainnya Jakarta

Orang Jakarta tak pernah menyebutnya dengan istilah "sungai", tetapi menyebutnya dengan "kali"...."kali Ciliwung". Meskipun orang bilang air sungai Ciliwung itu kotor, tapi banyak juga orang yang senang tinggal di sepanjang tepinya. Di sana bahkan anak-anak bisa berenang sesukannya tanpa harus keluar uang satu sen pun. Berenang dan bersenang-senang di kali Ciliwung, itulah hobi yang dimiliki oleh anak-anak yang tinggal di sepanjang tepi sungai yang membelah ibukota Jakarta. Setiap pagi dan sore anak-anak selalu berkumpul di tepi kali, lalu bersama-sama melompat dan….byuur. Yang mereka rasakan hanyalah kegembiraan, mereka tidak pernah memikirkan bahaya apa yang akan mereka derita kelak.


Bagi orang yang tak biasa, mungkin air sungai Ciliwung itu kotor dan menjijikan. Tapi tidak bagi orang-orang yang tinggal di tepinya. Mungkin karena sudah biasa kali ya ?? Setiap hari dari pagi hingga petang, dari anak-anak sampai orang tua memanfaatkan air sungai Ciliwung. Ibu-ibu biasa mencuci baju di atas getek dari bambu. Tak hanya mencuci baju saja, bahkan untuk keperluan memasak, mereka juga memakai air sungai untuk mencuci beras yang akan dimasak. Padahal selain airnya berwarna coklat dan tentu saja kotor, sungai Ciliwung juga dimanfaatkan sebagai MCK ( mandi, cuci, kakus ) bersama.



Bahkan bila pagi hari orang yang buang hajat besar seperti berlomba, mereka tinggal jongkok berlama-lama di toilet seadanya yang mereka buat sendiri. Jangan pikir toilet itu seperti toilet yang ada di rumah, mereka cukup membuatnya dari beberapa lembar papan kayu dan membentuknya menjadi kotak yang ketinggiaannya cukup sebatas dada bila untuk jongkok. Tanpa perlu membuat lubang angsa dan septiteng, jadi kotoran langsung “pluung”…dan tinggal kita ucapkan “dadaa…” maka kotoran langsung hilang dibawa pergi air sungai Ciliwung. Tak cuma itu, sungai Ciliwung juga kotor oleh berbagai jenis sampah. Dari mulai sampah rumah tangga, batang-batang kayu dan bambu, kantong dan botol plastic, bangkai binatang, bahkan sampai kursi dan kasur bekas yang tentu saja sudah rusak. Semua sampah itu tidak lain berasal dari masayarakat di sekitar sungai Ciliwung yang selalu membuang sampah sembarangan ke sungai Ciliwung.

Menurut orang-orang tua, waktu mereka masih muda dulu, air sungai Ciliwung bersih. Sayang, sekarang jadi seperti ini. Oleh karena itu, sebagian masyarakat sudah membuat sumur sendiri. Namun masih banyak juga yang tetap menggunakan air sungai Ciliwung untuk mandi dan mencuci.

Setiap musim hujan tiba, penduduk di tepi sungai Ciliwung juga harus waspada terhadap banjir. Setiap kali di daerah hulu hujan deras, maka sudah dapat dipastikan akan terjadi banjir. Hal ini disebabkan karena daerah hulu yaitu kawasan Puncak Bogor sudah kehilangan banyak fungsi sebagi penampung air hujan. Hutan yang dulunya hijau telah berganti menjadi ratusan villa mewah.


Di luar masalah yang dihadapi sungai Ciliwung dan orang-orang yang tinggal di tepiannya, ternyata sungai ini juga merupakan sumber rejeki bagi beberapa orang. Misalnya bekerja sebagai pengemudi getek yang menyebrangkan orang dari satu tepi ke tepi seberangnya. Ada juga yang suka mengumpulkan botol-botol plastik yang hanyut terbawa air sungai. Botol itu bisa dijual kembali dan menjadi uang.

Itulah berbagai permasalahan dan keuntungan yang diberikan oleh sungai Ciliwung bagi masyarakat Jakarta, khususnya bagi mereka yang tinggal di sepanjang tepinya.