Tampilkan postingan dengan label Tempat Wisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tempat Wisata. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 April 2010

Pesona Laut Raja Ampat

Sejumlah turis tampak asyik bersantap dan mengobrol santai sambil memandang lepas ke arah laut yang didominasi warna biru, hijau, dan putih. Warna-warna itu muncul karena pengaruh dari hamparan terumbu karang di dasar laut yang dangkal maupun dalam. Mereka sedang menikmati makan siang di Papua Diving Resort, perairan Raja Ampat, Irian Jaya Barat.



Sebagian turis tampak berjalan-jalan di pantai berpasir putih halus. Ada pula yang sibuk di dermaga bersiap menaiki speedboat yang dilengkapi peralatan selam. Beberapa di antaranya sudah berada di kawasan itu lebih dari dua minggu. Mereka seolah tak bosan menyelam dan berjemur setiap hari sehingga membuat kulit yang putih nyaris gelap dibakar sinar matahari tropis yang menyengat.




Teriknya matahari dan cerahnya udara justru membuat gemas para tamu untuk kembali menyelam dan menyelam. Cahaya matahari kerap menembus celah-celah gelombang laut sampai ke karang. Keelokan pemandangan dan biota lautnya memang membuat kesan mendalam bagi para wisatawan. Bagi pencinta wisata pesisir dan bawah air yang fanatik, Raja Ampat sangat dikenal bahkan dinilai terbaik di dunia untuk kualitas terumbu karangnya.



Banyak fotografer bawah laut internasional mengabadikan pesona laut Raja Ampat. Bahkan ada yang datang berulang kali dan membuat buku khusus tentang keindahan terumbu karang dan biota laut kawasan ini. Pertengahan 2006 lalu, tim khusus dari majalah petualangan ilmiah terkemuka dunia, National Geographic, membuat liputan di Raja Ampat yang akan menjadi laporan utama pada 2007.

Sebanyak 610 Pulau

Raja Ampat adalah pecahan Kabupaten Sorong, sejak 2003. Kabupaten berpenduduk 31.000 jiwa ini memiliki 610 pulau (hanya 35 pulau yang dihuni) dengan luas wilayah sekitar 46.000 km2, namun hanya 6.000 km2 berupa daratan, 40.000 km2 lagi lautan. Pulau-pulau yang belum terjamah dan lautnya yang masih asri membuat wisatawan langsung terpikat. Mereka seakan ingin menjelajahi seluruh perairan di "Kepala Burung" Pulau Papua.

Wilayah ini sempat menjadi incaran para pemburu ikan karang dengan cara mengebom dan menebar racun sianida. Namun, masih banyak penduduk yang berupaya melindungi kawasan itu sehingga kekayaan lautnya bisa diselamatkan. Terumbu karang di laut Raja Ampat dinilai terlengkap di dunia. Dari 537 jenis karang dunia, 75 persennya berada di perairan ini. Ditemukan pula 1.104 jenis ikan, 669 jenis moluska (hewan lunak), dan 537 jenis hewan karang. Luar biasa.

Bank Dunia bekerja sama dengan lembaga lingkungan global menetapkan Raja Ampat sebagai salah satu wilayah di Indonesia Timur yang mendapat bantuan Coral Reef Rehabilitation and Management Program (Coremap) II, sejak 2005. Di Raja Ampat, program ini mencakup 17 kampung dan melibatkan penduduk lokal. Nelayan juga dilatih membudidayakan ikan kerapu dan rumput laut.

Eksotis

Papua Diving, satu-satunya resor eksotis yang menawarkan wisata bawah laut di kawasan itu, didatangi turis-turis penggemar selam yang betah selama berhari-hari bahkan hingga sebulan penuh mengarungi lekuk-lekuk dasar laut. Mereka seakan tak ingin kembali ke negeri masing-masing karena sudah mendapatkan "pulau surga yang tak ada duanya di bumi ini".

Pengelolanya tak gampang mempersiapkan tempat bagi wisatawan. Maximillian J Ammer, warga negara Belanda pemilik Papua Diving Resort yang juga pionir penggerak wisata laut kawasan ini, harus mati-matian menyiapkan berbagai fasilitas untuk menarik turis dari mancanegara. Sejak memulai usahanya delapan tahun lalu, banyak dana harus dikeluarkan. Namun, hasilnya juga memuaskan. Setiap tahun resor ini dikunjungi minimal 600 turis spesial yang menghabiskan waktu rata-rata dua pekan.

Penginapan sangat sederhana yang hanya berdinding serta beratap anyaman daun kelapa itu bertarif minimal 75 euro atau Rp 900.000 semalam. Jika ingin menyelam harus membayar 30 euro atau sekitar Rp 360.000 sekali menyelam pada satu lokasi tertentu. Kebanyakan wisatawan datang dari Eropa. Hanya beberapa wisatawan asal Indonesia yang menginap dan menyelam di sana.

"Turis menyelam hampir setiap hari karena lokasi penyelaman sangat luas dan beragam. Keindahan terumbu karangnya memang bervariasi sehingga banyak pilihan dan mengundang penasaran. Ada turis yang sudah berusia 80 tahun masih kuat menyelam," tutur Max Ammer yang beristrikan perempuan Manado.

Tiga tahun lalu, Papua Diving membangun penginapan modern tak jauh dari lokasi pertama. Ternyata, penginapan yang dibangun dengan mengandalkan bahan bangunan lokal ini hampir selalu penuh dipesan. Padahal tarifnya mencapai 225 euro atau sekitar Rp 2,7 juta per malam. Di lokasi yang baru, dilengkapi peralatan modern, termasuk fasilitas telepon internasional dan internet.

Turis ke Raja Ampat hanya ingin ke Papua Diving di Pulau Mansuar karena fasilitas dan pelayannya sudah berstandar internasional, juga makanannya. Mereka mendarat di Bandara Domne Eduard Osok, Sorong, langsung menuju lokasi dengan kapal cepat berkapasitas sekitar 10 orang yang tarifnya Rp 3,2 juta sekali jalan. Perlu waktu sekitar 3-4 jam untuk mencapai Mansuar.

Seperti pulau lainnya, Mansuar tampak asri karena hutannya masih terjaga dan air lautnya pun bersih sehingga biota laut yang tidak jauh dari permukaan bisa terlihat jelas. Turis cukup berenang atau ber-snorkelling untuk melihat keindahan laut, sedangkan jika ingin mengamati langsung kecantikan biota laut di kedalaman, mereka harus menyelam.

Merasa Aman

Warga lokal dilibatkan dalam pembangunan dan pengelolaan resor, bahkan 90 dari 100 karyawannya adalah warga Papua. Penduduk juga memasok ikan, sayur-mayur, buah-buahan, dan lainnya. Salah satu paket wisatanya mengunjungi perkampungan untuk melihat tanaman dan hewan khas setempat, termasuk burung Cendrawasih. Banyak wisatawan yang menjadi donatur pembangunan gereja dan pendidikan anak-anak sekitar Man- suar.

Max Ammer mempunyai komitmen untuk meningkatkan ekonomi dan keterampilan warga setempat. Mereka ada yang dilatih berbahasa asing dan menggunakan peralatan selam. Wisatawan pun merasa aman di kala siang maupun malam saat menikmati terik dan tenggelamnya matahari maupun saat berenang dan menyelam di laut yang sangat dalam.

Selain kelautan dan perikanan, Raja Ampat memiliki kekayaan sumber daya alam, antara lain minyak bumi dan nikel. Di dasar lautnya juga banyak terdapat kapal-kapal karam bekas Perang Dunia II yang diperkirakan memuat "harta karun" bernilai tinggi. Namun, jika salah kelola, kegiatan eksploitasi semua itu dikhawatirkan mengancam kelestarian dan keindahan alam lautnya.


http://liburan.info/content/view/54/43/lang,en/

Indahnya Pulau Mansinam

Pulau MansinamKetika berada di Manokwari, cobalah bertanya tempat apa yang menarik dikunjungi. Bisa ditebak, jawabannya, Pulau Mansinam! Ini pulau kecil di Teluk Doreh. Kalau berdiri di Pelabuhan Manokwari atau di kawasan wisata pantai Pasir Putih di Manokwari, Pulau Mansinam begitu jelas terlihat, bertetangga dengan Pulau Lemon.

Tidak terlalu sulit untuk menjangkau pulau yang terletak sekitar enam kilometer dari Manokwari daratan ini. Hanya butuh waktu sekitar 10-15 menit dengan speed boat. Penumpang ke Pulau Lemon dan Pulau Mansinam biasanya menunggu di Pantai Kwawi (Manokwari daratan). Tepatnya di depan Kantor Klasis Kwawi.

Penyeberangan ke Mansinam meski terbilang singkat, tapi kebeningan dan kebiruan air laut di Teluk Doreh ini cukup memberikan kesegaran tersendiri dan mengabaikan sengatan matahari. Ketika berdiri di Kwawi, samar-samar terlihat prasasti di Pantai Mansinam yang menandai masuknya injil di Tanah Papua.

Pulau  MansinamSemakin mendekati Pulau Mansinam, prasasti berupa salib dengan ketinggian beberapa meter itu kian jelas terlihat. Siapapun bisa memasuki lokasi prasasti dengan menghubungi pemegang kunci pagar, Adolf Sarumi. Selain untuk peringatan, prasasti itu juga dibuat untuk tujuan wisata dan berada di bibir pantai Mansinam, menghadap ke Kota Manokwari.

“Soli deo Gloria”

Di bagian bawah kaki prasasti, hanya ada tulisan “Soli deo Gloria. De Eerste Zendelingen van Nederlandsch Nieuw Guinee C.W. Ottow En J.G. Geissler Zyn Hier Geland op 5-2-1855”. Di sisi tulisan ini, ada terjemahan dalam bahasa lokal. Artinya, kurang lebih, Zending pertama untuk Papua Ottow-Geissler tiba di sini 5 Februari 1855.

Sekitar 50 meter dari prasasti terdapat satu gereja dengan arsitektur yang cukup menarik. Rupanya, gereja itu masih mempertahankan arsitektur asli dari gereja yang dibangun Geissler pada 1864. Ini merupakan gereja pertama di Papua. Pondasi gereja yang asli terletak di sisi gereja yang berdiri sekarang.

Di samping gereja, juga terdapat sumur tua yang dibuat Ottow-Geissler ketika menetap di Pulau Mansinam. Sumur itu masih tetap digunakan warga sekitar untuk memenuhi kebutuhan air tawar. Air sumur itu sangat bersih, segar dan tidak terasa asin meski tidak jauh dari pantai. Selain pondasi gereja dan sumur, juga terdapat tempat pembakaran roti—-seperti oven tapi terbuat dari semen.

Pulau  MansinamSepintas Pulau Mansinam, tiada beda dengan ribuan pulau kecil di tanah air. Biasanya, pulau kecil tidak terurus dengan baik dan minim fasilitas. Ini juga berlaku di Pulau Mansinam. Tapi, semua itu tentu tidak menghapus berbagai catatan sejarah Papua di Pulau Mansinam ini.

Mungkin, bagi wisawatan akan kesulitan untuk mengetahui siapa Ottow-Geissler, selain tulisan di prasasti dalam bahasa Belanda, kalau keduanya sebagai zending pertama. Tapi, kalau penasaran, bisa mengunjungi Kantor Klasis Kwawi untuk memperoleh informasi mengenai Ottow-Geissler.

Masuknya Injil

Kalau berbicara tentang sejarah Tanah Papua, maka Pulau Mansinam akan menjadi titik penting, karena menjadi asal-muasal pekerjaan zending (misi) di Tanah Papua. Di Pulau ini, tepatnya 5 Februari 1885, dua orang zendeling-werklieden (utusan tukang) dari Jerman, C.W. Ottow dan Johann Gottlob Geissler menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di Papua.

Pulau  MansinamSesuai buku “Seratus Satu Tahun Zending di Irian Barat” (karya Pdt. FJS. Rumainum tahun 1966), Ottow-Geissler mencapai Pulau Mansinam setelah menempuh perjalanan panjang dari Eropa dengan kapal Abel Tasman pada 25 Juni 1852 melalui Tanjung Harapan dan tiba di Batavia pada 7 Oktober 1852, kemudian berlayar ke Makasar, Ternate sebelum akhirnya tiba di Mansinam pada 1885.

Kehadiran Ottow-Geissler di Mansinam menjadi tonggak masuknya injil untuk pertama kali di Tanah Papua. Kedua Zending ini menjadi pelopor bagi pekerjaan Zending selanjutnya di seluruh Tanah Papua. Ottow menjadi Zending pertama juga yang meninggal dan dimakamkan di Papua, tepatnya di Kwawi, Manokwari. Sedangkan Geissler meninggal dan dimakamkan di Eropa.

Selain injil, sebenarnya sejumlah peristiwa bersejarah di Papua bermula dari pulau kecil di Teluk Doreh ini. Sebab, di pulau inilah Gereja Pengharapan (Krek der Hopen) sebagai gereja pertama di Papua yang dibangun Geissler pada 1864. Di pulau ini juga, untuk pertama kali orang Papua menganut agama Kristen.

Bahkan, sejarah pendidikan di Tanah Papua, juga tidak lepas dari Pulau yang sekarang hanya memiliki satu sekolah dasar (SD) ini. Sesuai catatan zending, Nyonya Ottow membuka sekolah putri di Kwawi (Manokwari) pada 1857, dengan menggunakan satu ruang di kediamannya sebagai kelas.

Pulau  Mansinam “Rasul Irian Barat”

Selain itu, Geissler juga membuka sekolah di Mansinam yang memberikan pelajaran bahasa Melayu. Di Mansinam ini, juga tercatat sekolah guru pertama di Papua yang didirikan Pdt.F.J.F. van Hasselt pada 1917.

Berbagai peristiwa sejarah yang terukir di Pulau Mansinam menjadikan pulau ini memiliki arti penting bagi Papua, yang ditorehkan Ottow-Geissler.

Kini nama dua orang “Rasul Irian Barat” ini diabadikan sebagai nama satu gereja di Kota Manokwari. Mungkin, Mansinam dan Manokwari ditakdirkan sebagai kota bersejarah di Papua. Kalau dirunut lagi, Kantor Pemerintahan pertama di Papua juga bermula dari Manokwari, yang kini menjadi Kantor Gubernur Irjabar.

Bukan hanya itu, Organisasi Papua Merdeka (OPM) juga mempunyai sejarah di Manokwari. Begitu juga, peristiwa penentuan pendapat rakyat (Pepera) 1969 berlangsung di Manokwari. Kini, Gedung Pepera menjadi Gedung DPRD Irjabar. Sementara prasasti Pepera yang terletak di kompleks Kantor Gubernur Irjabar, tidak terawat dan kian memudar.

Pulau  MansinamPulau Mansinam, penuh dengan sejarah Papua. Namun, agak miris, kalau melihat penataan Pulau Mansinam sekarang ini, yang tidak lebih sebagai onggokan tanah di depan Manokwari, yang tidak lebih baik dari zaman Ottow-Geissler. Betapa tidak, sekolah guru pertama di Papua berdiri di Mansinam, kini hanya ada satu SD. Pelajar SMP dan SMA Mansinam harus menyeberang ke Manokwari untuk bersekolah. Untuk itu, jangan bayangkan jalan raya, karena hanya ada jalan setapak.

Pulau Mansinam sering dikatakan sebagai titik peradaban baru di Papua, tapi itu tidak tampak dalam wajah Mansinam saat ini. Ya, Mansinam sekarang nyaris tidak beda dengan pulau kecil lain, meski sejarah berbeda. Yang jelas, Pulau Mansinam terurus atau tidak, doa Ottow-Geissler, “Dengan nama Tuhan kami menginjak tanah ini” yang terucap pada 5 Februari 1855 tetap terucap di pulau kecil yang cukup elok ini. 
http://liburan.info/content/view/902/43/lang,en/

Menelusuri Eksotika Sauwandarek

Eksotis, mungkin itu kata yang tepat menggambarkan pesona Kampung Wisata Sauwandarek. Terletak di Distrik Meos Mansar, Raja Ampat, Papua Barat, kampung ini tak hanya menawarkan pesona bawah laut. Namun, kemolekannya semakin lengkap dengan keindahan alam di atas lautnya.


Tiba di pantai Sauwandarek, aktivitas snorkeling rasanya sayang untuk di lewatkan. Jika tak puas bersnorkeling, Sauwandrek yang berada di kawasan Selat Dampier memiliki beberapa lokasi menyelam (dive site). Berbagai jenis ikan seperti kuda laut mini (pigmy seahorse), udang mantis, blue ring octopus, ikan mandarin, kakap (schooling snapper), dan ekor kuning bisa kita jumpai. Kadang penyelam juga bisa menikmati berada dekat dengan gerombolan ikan tuna dan barakuda.



Puas dengan keindahan bawah laut, anda bisa melanjutkan perjalanan di kampung wisata. Masyarakat Sauwandarek tahu betul menjaga keunikan kampung mereka. Di sini, rumah-rumah penduduk sengaja dibiarkan dengan bentuk dan material yang masih alami.


Di kampung wisata ini, anda akan menjumpai kaum wanita khususnya ibu-ibu membuat kerajinan anyaman daun pandan. Barang yang biasa dibuat adalah noken dan topi. Kerajinan ini bisa anda beli untuk suvenir. Harga noken dan topi di Sauwadarek relatif murah, anda bisa membawa pulang berbagai kerajinan anyaman dengan harga berkisar Rp.25.000-Rp.50.000 per buah tergantung jenis dan ukurannya.

Keunikan lain di Kampung Sauwandarek adalah atraksi memberi makan ikan di pantai. Puluhan ikan liar dengan sekejap akan berkerumun saat kita menebarkan makanan di pantai. Cukup dengan menebus makanan ikan seharga Rp.50.000, rasanya sayang jika kesempatan langka ini anda lewatkan.

Bagi pecinta treking, anda bisa melanjutkan perjalanan menuju sebuah telaga. Oleh masyarakat setempat telaga ini disebut Telaga Yenauwyau. Uniknya telaga di sini berair asin. Menurut Kepala Desa Sauwandarek, Korinus Urbata, dahulu di telaga ini terdapat sebuah goa yang menghubungkan telaga dengan laut. Sebelum goa itu tertutup, tak jarang ikan lumba-lumba dari laut masuk ke telaga. Tapi sayang, pemandangan itu sekarang sudah hilang.


Bagi masyarakat Sauwandarek, telaga ini dipercaya sebagai tempat keramat yang dihuni oleh seekor penyu putih. Tidak sembarang orang bisa melihat wujud penyu tersebut. Namun jika kebetulan menjumpai penyu ini, masyarakat percaya orang tersebut akan mendapatkan keberuntungan.

Telaga ini menjanjikan panorama alami. Di tepi telaga terdapat semacam dermaga yang berfungsi untuk menikmati panorama telaga sekaligus tempat melepas lelah setelah berjalan kaki sekitar 25 menit mencapai lokasi telaga. Selain itu, anda juga bisa menyaksikan burung Maleo Waigeo (Spilocuscus papuensis),  burung endemik di wilayah Sauwadarek.

Untuk mencapai Sauwandarek, anda bisa menggunakan kapal reguler dari Sorong menuju Ibu Kota Kabupaten Raja Ampat, Waisai. Perjalanan ini akan ditempuh dalam waktu 2-4 jam. Tarif kapal reguler ini tergolong murah, berkisar Rp.100.000 hingga Rp.125.000 perorang, sekali jalan. Dari Waisai perjalanan lalu dilanjutkan menuju Sauwandarek dengan menggunakan long boat selama 4 jam. Biaya sewa long boat berkisar Rp.300.000, sekali jalan.


Tetapi jika ingin cepat, anda bisa juga menyewa speed boat dari Sorong. Dengan biaya sewa sekitar Rp 5  juta perhari,
perjalanan Sorong-Sauwandarek hanya akan ditempuh dalam waktu 3 jam perjalanan.

Sepanjang perjalanan menuju Sauwandarek, tak jarang anda akan dimanjakan oleh keindahan karang, ikan, dan biota laut lainnya. Laut yang masih alami membuat ekosistem di wilayah Raja Ampat ini bisa dinikmati dengan mata telanjang.



http://liburan.info/content/view/955/43/lang,en/

Menikmati Sensasi di Kegelapan Goa Kokas

Mengunjungi Kota Kokas, Kabupaten Fakfak, Papua Barat, terasa belum lengkap jika Anda melewatkan kesempatan menelusuri sisa-sisa peninggalan Perang Dunia ke-II yang terdapat di kota ini. Tidak main-main, pada periode 1942 dan 1945, Kokas pernah menyandang gelar sebagai kota basis pertahanan tentara Jepang melawan sekutu.

Sebagai kota basis pertahanan militer, Kokas tentu menyimpan berbagai peninggalan. Salah satu saksi bisu peninggalan peristiwa paling bersejarah tersebut adalah bangunan goa atau benteng Jepang yang terdapat di pusat kota Kokas. Sepintas, tidak ada yang istimewa dari bangunan goa di tepi laut ini. Dari luar, hanya terlihat tiga buah bungker pengintai berukuran tak lebih dari 4 meter persegi.




Namun, siapa menduga, di belakang bungker-bungker ini terdapat goa persembunyian sepanjang 138 meter yang mengeruk perut bukit. Sebagai lokasi yang dirancang menjadi pusat pertahanan militer, goa ini dibangun tepat mengahadap arah laut. Dari goa inilah setiap kapal sekutu yang merapat di perairan kota Kokas akan dengan mudah terpantau tentara Jepang.
 
Meski difungsikan sebagai lokasi wisata, uniknya kita masih bisa menyaksikan bentuk goa ini alami sesuai aslinya. Tidak ada yang berubah, kecuali pintu pagar di ketiga mulut goa. Tertarik menyusuri setiap sudut goa ini? Sedikit perlengkapan berupa pelita atau senter perlu Anda siapkan sebelum memulai penyusuran. Di kedalaman, goa ini benar-benar gulita. Cahaya matahari hanya mampu memandu hingga di bibir goa.

Namun, justru di sinilah letak sensasi menyusuri goa berada. Rasa penasaran tidak akan serta merta terjawab saat Anda memasuki goa. Dalam minusnya cahaya, Anda masih harus meraba dan mencari 'kejutan' di setiap sudut goa yang Anda lalui. Rasanya terlalu sayang untuk melewatkan setiap detail kemewahan lorong di dalam goa. Anda akan menjumpai banyak ruangan yang disekat menyerupai kamar tidur.

Puas menikmati penyusuran, Anda bisa melepas lelah dengan menikmati keindahan pemandangan laut dan tanjung di depan goa. Panorama yang membentang luas tersebut bisa Anda jumput dari atas sebuah bukit.

Tunggu apa lagi? Untuk menyambangi goa ini, tersedia angkutan luar kota dari terminal Fakfak menuju pusat kota Kokas. Sepanjang perjalanan 2 jam, Anda akan dihibur dengan sejuknya udara dan panorama bukit di belantara Papua. Cukup dengan merogoh kocek sebesar Rp 25.000, sekali jalan, Anda akan diantar hingga tiba di lokasi goa berada.

http://liburan.info/content/view/1005/43/lang,en/