Senin, 03 Mei 2010

MADU...cikal bakal antibiotik



Seiring dengan semakin kebalnya bakteri terhadap antibiotika, para dokter di penjuru dunia kembali menggandeng sekutu lama mereka, yaitu MADU. Madu yang merupakan obat populer sebelum era keajaiban obat-obat modern, melindungi luka dari bakteri dengan beberapa cara, termasuk secara terus menerus memproduksi hidrogen peroksida yang merupakan antiseptik. Selama beberapa tahun, rumah sakit di Asia dan Eropa menggunakan perban yang mengandung madu berkhasiat tinggi dari pohon Manuka ( Leptospermum scoparium ). Selandia Baru dan kini institusi kesehatan AS dan Kanada mengikuti langkah tersebut. Kekuatan antiseptik, yang disebut Faktor Unik manuka --dari setiap takaran madu ajaib itu dinilai dari 0-25. para ilmuan masih belum sepenuhnya dapat mengidentifikasi zat mana dari lebih 100 zat yang terkandung dalam madu yang memiliki khasiat mujarab tersebut. Namun, kehadiran zat tersebut membuat madu menjadi peluang yang bagus untuk tetap digunakan sebagai obat.

Sumber : A.R Williams ( National Geographic Indonesia )

KERONDONG...layaknya alien di bumi

Dua rahang dengan mulut yang tak berhenti membuka dan menutup, pandangan kosong dan tubuh mirip ular. Kerondong benar-benar mirip makhluk dari planet lain. Ikan karang bergigi tajam ini juga memiliki rahang kedua di dalam mulutnya. Rahang tersebut akan meluncur keluar kerongkongan untuk menangkap mangsa yang dijepit oleh gigi rahang depan, lalu kembali ditarik mundur ke dalam. Bagi ilmuwan, ini adalah cara makan yang brilian, mesti terlihat seperti fiksi ilmiah.


Tak seperti kebanyakan ikan bertulang sejati, kerondong sepertinya tak memiliki cukup daya isap untuk menelan. Baru-baru ini, susunan dua rahang kerondong diteliti dengan video berkecepatan tinggi. Kerondong dapat menjepit, mengangkut, dan memasukkan mangsa besar ke dalam kerongkongan yang panjang. Inilah laporan dan penemuan pertama tentang mekanisme seperti itu pada vertebrata. Walau ada di cabang yang berbeda pada pohon evolusi, ular juga punya sistem yang mirip, yaitu rahang bergerigi yang mencengkram dan mendorong makanan ke dalam kerongkongan. Saat dua mahkluk yang tak punya hubungan kekerabatan dihdapkan pada masalah yang sama, jalan keluar yang dihasilkan pun mirip.

Sumber : Jennifer S. Holland ( National Geographic Magazine )

PISANG...vaksin baru untuk Hepatitis B

Apa yang terpikir dalam benak anda bila melihat buah pisang? mungkin saja anda salah satu dari berjuta-juta penggemar buah pisang. Apa saja yang anda ketahui tentang manfaat buah pisang itu sendiri? Ternyata saat ini buah pisang telah dapat dipakai sebagai bentuk metode pemberian vaksinasi, yaitu vaksinasi hepatitis B.

Vaksinasi hepatitis B tak lagi diwarnai tangisan, tetapi keceriaan balita yang melahap bubur pisang. Itu salah satu harapan para peneliti dari LIPI dan ITB dalam mengembangakan vaksin yang langsung bisa dimakan dalam buah pisang yang murah, enak, dan tak kenal musim. Selain mengurangi efek samping jarum suntik, pendistribusian vaksin dalam buah pisang relatif mudah, tanpa harus memenuhi syarat penyimpanan dalam suhu 2-8 derajat celcius. lewat rekayasa genetika, AS sudah terlebih dahulu mengembangkan vaksin hepatitis B dalam kentang dan China dalam buah tomat.

Vaksin yang dihasilkan dari tanaman aman digunakan karena sebagian besar patogen tanaman tidak menginfeksi manusia. Untuk dimakan pun tidak perlu purifikasi. Saat ini para peneliti dari ITB sedang dalam tahap proses kontruksi plasmik terkait gen hepatitis. Adapun peneliti dari Pusat Penelitian Biologi LIPI sedang melakukan proses kultur jaringan, mempersiapkan tanaman pisang. Setelah dikembangkan, harapan selanjutnya adalah antigen pada pisang bisa berfungsi sebagi vaksin, menimbulkan sistem imun terhadap virus hepatitis B.

Sumber : Titania Febrianti ( National Geographic Indonesia )

KEPIK..si kecil pembuat onar

Jangan terkecoh pada pola yang cantik dan nama yang lucu karena kepik harlequin ( Harmonia axyridis ) adalah masalah yang serius. Kepik asal Asia ini pertama kali dilihat di Inggris pada tahun 2004. Para ahli yakin, kepik ini terbang atau terbawa angin dari daratan Eropa yang pada tahun 1990-an sengaja menggunakannya untuk mengendalikan hama tanaman. Di sana kepik harlequin dimanfaatkan karena memangsa kutu daun. Sayangnya, kepik-kepik ini juga memangsa kepik lainnya dalam jumlah yang besar, sehingga kepik lokal sulit bertahan hidup. Membebankan pengendalian populasi kutu daun kepada satu jenis saja merupakan langkah yang kurang bijak. Sementara untuk mengetahui lebih jauh cara penyebaran spesies ini, Harlequin Ladybird Survey melakukan pengawasan dan mencatat invasi kepik ini di Inggris. Untuk menghentikan kepik harlequin dengan jaring berferomon sangatlah mahal. Sehingga mereka hanya bisa berharap terjadinya penurunan drastis dari kepik harlequin ini dari musuh alami atau penyakit.

Sumber : Catherine L. Barker ( National Geographic Indonesia )

OBAT-OBATAN PENGUBAH DUNIA

1. OPIUM ( CANDU )
Obat yang penting, baik dari sudut politik, dagang maupun budaya. Opium adalah bahan utama obat penahan sakit.

2. VAKSIN CACAR
Edward Jenner memperkenalkan vaksin cacar yang dibuat dari antibodi sapi pada tahun 1798. Tahun 1885, para pelancong dari Motreal, daerah epidemi cacar, disuntik vaksin di atas kereta api.

3. SALVARSAN
Pada tahun 1910, ilmuwan Jerman, Paul Ehrlich menciptakan bahan kimia yang menyerang patogen spirochete, yang membawa penyakit sifilis. Karena metodenya, ia dikenal sebagai 'bapak kemoterapi'.

4. INSULIN
Sebelum Frederick Banting dan kolega-koleganya mengisolasi jenis hormon ini pada tahun 1920-an, para pasien diabetes terpaksa diet ketat. Tidak banyak obat yang bisa menyembuhkan begitu banyak orang dengan begitu cepat.

5. PENISILIN
Saat ditemukan tahun 1928, penisilin belum dihiraukan orang. Antibiotik ini mulai dikenal di perang dunia II ketika digunakan untuk mengobati serangkaian penyakit yang menular dan mematikan.

6. EVONID

Jenis pil kontrasepsi pertama di Amerika pada tahun 1960. Pada tahun 1970, evonid yang dikonsumsi jutaan orang, menjadi obat pertama yang mencantumkan efek samping pada kemasannya. Hal yang ditentang para ahli kesehatan pada masa itu, tetapi menjadi hal yang wajar sekarang.

7. THALIDOMIDE

Selama akhir tahun 1950-an dan awal 1960-an, ia menjadi penyebab lahir mati atau lahir cacat para bayi yang ibunya mengkonsumsi obat penenang ini selama masa kehamilan. Thalidomide muncul lagi tahun 1990-an sebagai solusi pengobatan komplikasi penyakit kusta dan penyakit lainnya.


Sumber : National Geographic Indonesia

BURUNG GEREJA YANG "TERJUN BEBAS"

Burung gereja-burung asli Eropa, Asia, dan Afrika utara--sangat terikat pada manusia. Mereka memakan sisa-sisa makanan penduduk kota, bersarang di bawah atap rumah, sekolah, dan berbagai jenis gedung, dan mengikuti penyebaran manusia di muka bumi. Kini jumlah mereka telah turun sangat jauh, mungkin juga disebabkan oleh kita.

Di Eropa barat, perubahan metode pertanian pada beberapa dekade silam membuat rumput liar dan benih yang berserakan semakin sedikit, jumlah burung gereja di pedesaan pun menurun. Lalu, populasi burung gereja di perkotaan juga mulai anjlok. Di London, survei yang dilakukan pada tahun 1925 mencatat 2.603 ekor burung gereja ada di taman Kensington ; suervei lanjutan tahun 2000 hanya mencatat 8 ekor. Mengapa? Peneliti terbaru yang dilakukan oleh Royal Society memaparkan, burung gereja tidak mendapatkan cukup serangga untuk diberikan kepada anak-anaknya yang baru menetas di musim panas. Sejumlah ahli konservasi bertanya-tanya, apakah pengaspalan lahan yang merupakan areal terbuka hijau yang semakin sedikit menjadi penyebab?.

Sumber : Helen Fields ( National Geographic Magazine )

AFROMONTANE



APAKAH AFROMONTANE ITU ?

Menyembul seperti kepulauan di lautan, Afromontane, rangkaian noktah-noktah besar sepanjang Afrika Timur, adalah rumah bagi keragaman kelompok tumbuhan dan hewan.
Rangkaian dataran tinggi dan pegunungan itu membentang dari Arab Saudi dan Yaman, menyebrang Laut Merah dan sepanjang Benua Afrika ke Zimbabwe. Merki terpisah-pisah oleh dataran rendah, tetapi dataran-dataran tinggi itu memiliki karakteristik keragaman bio-geografis yang tetap.

Daftar spesies Afromontane meliputi 7.600 tanaman, 1.300 burung, 890 ikan, 500 mamalia, 350 reptil, dan 250 amfibi. Jumlah makhluk invertebrata tak diketahui, tetapi ditemukan lebih dari 1.300 kupu-kupu di hanya satu bagian saja dari pegunungan itu. Tanaman-tanaman di Afromontane tersebar dari utara ke selatan dengan sejumlah kesamaan vegetasi di ketinggian yang sama. Sebagian besar spesies Afromontane bersifat endemik.

Lembah The Great Rift menjadi pusat Afromontane. kekuatan geologis yang telah menciptakan lembah itu juga membentuk sejumlah danau terkemuka, termasuk danau Tanganyika yang merupakan dalau terdalam ke-2 dengan kedalaman 1.471 meter.
Kerusakan habitat kebanyakan disebabkan oleh pertanian dan penebangan hutan. Hal ini merupakan ancaman terbesar dari kelestarian keragaman biota Afromontane. Hanya sekitar 15% dari sistem tersebut yang berada dalam perlndungan resmi.


Sumber : Kompas edisi Minggu 19 Juli 2009